Sejarah

Mengenang Sang Putra Fajar, Bung Karno, 121 Tahun Lalu

6 Juni 1901 adalah hari lahirnya Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, atau sering disapa Bung Karno, dan dikenal juga sebagai bapak Proklamator Kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno lahir di Surabaya saat fajar menyingsing atau tak lama sebelum matahari akan terbit, karena hal tersebut Soekarno dijuluki sebagai Putra Sang Fajar.

Saat lahir, nama kecil soekarno adalah Koesno Sosrodihardjo, lantaran sakit-sakitan Soekarno kecil dirawat oleh Kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung dan namanya berubah menjadi Seoekarno.

Bung Karno merupakan salah seorang sosok tokoh paling berpengaruh di Indonesia. Melalui orasi-orasinya, Bung Karno mampu mengobarkan semangat rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Tak heran, jika Bapak Proklamator ini dicintai oleh masyarakat Indonesia.

Kebesaran nama Bung Karno tak bisa lepas dari sejarah panjang perjuangan bangsa ini dalam merebut kemerdekaan.

Soekarno merupakan pahlawan yang sangat berjasa dalam perjuangan melawan penjajah. Ia bersama Hatta dan koleganya tak pernah letih untuk memikirkan kemajuan bangsa ini.

Untuk mengenang Bung Karno, pada 2013 lalu Sutradara Hanung Bramantyo membuat film biopik berjudul “Soekarno.” Film itu dibintangi oleh aktor Ario Bayu sebagai Bung Karno, Maudy Koesnaedy sebagai Inggit Ganarsih, serta Tika Bravani sebagai Fatmawati.

Film itu mengisahkan perjuangan Bung Karno dan para pahlawan lainnya mewujudkan kemerdekaan Indonesia, dibumbui dengan kisah cintanya dengan dua wanita yaitu Inggit dan Fatmawati.

Berikut Biografi Singkat Presiden Soekarno

Ir. Soekarno biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Surabaya, Jawa Timur 6 Juni 1901. Ayah Soekarno bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo. Sementara ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai.

Ayah Soekarno adalah seorang guru. Raden Soekemi bertemu dengan Ida Ayu ketika dia mengajar di Sekolah Dasar Pribumi Singaraja, Bali. Soekarno tidak lama tinggal bersama kedua orang tuanya, sebelum akhirnya ikut kakeknya Raden Hardjokromo di Tulungagung.

Baca Juga:   Sejarawan Palembang Harapkan Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Selamat dari Kebakaran Museum Nasional

Bung Karno menempuh pendidikan di Tulungagung. Hingga akhirnya ikut kedua orang tuanya ke Mojokerto. Di sana ia melanjutkan pendidikan ke Eerste Inlandse School. Lalu pada tahun 1911, Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) agar diterimam di Hoogere Burger School (HBS).

Tepat pada 1915, Soekarno melanjutkan pendidikan di HBS, Surabaya, Jawa Timur. Di Surabaya, Soekarno bertemu dengan para tokoh dari Sarekat Islam yang kala itu dipimpin HOS Tjokroaminoto. Beliau ini yang memberi tumpangan Soekarno di Surabaya.

Nasionalisme Bung Karno

Saat menjadi mahasiswa, Bung Karno pernah menjadi asisten seorang profesor bernama Charles Prosper Wolff Schoemaker. Bung Karno kala itu didaulat menjadi draftman sejumlah proyek arsitektur. Rumah Red Tulip, adalah salah satu karya terbaik mereka berdua.

Dari sanalah kemudian muncul gagasan-gagasan Soekarno untuk membangun negara ini setelah menjadi Presiden Republik Indonesia. Ide tersebut lalu divisualisasikan oleh seorang arsitektur bernama Sudarsono. Tugu Monas atau Monumen Nasional adalah salah satu ide cemerlang Sang Proklamator.

Rasa nasionalisme Soekarno akhirnya muncul dan menggelora pada masa ini. Hingga Soekarno mulai aktif di organisasi pemuda Tri Koro Darmo. Organisasi ini dibentuk dari Budi Utomo. Nama organisasi ini kemudian diganti Jong Java (Pemuda Jawa) pada 1918.

Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung yang diinspirasi dari Indonesische Studie Club (dipimpin oleh Dr Soetomo). Algemene Studie Club merupakan cikal bakal berdirinya Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927.

Baca Juga:   Inilah Prasasti Kedukan Bukit, Rujukan Hari Lahir Kota Palembang 17 Juni

Bulan Desember 1929, Soekarno ditangkap oleh Belanda dan dipenjara di Penjara Banceuy karena aktivitasnya di PNI. Pada tahun 1930, Soekarno dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Dari dalam penjara inilah, Soekarno membuat pledoi yang fenomenal, Indonesia Menggugat.

Namun, semangat Soekarno tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan. Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu. Soekarno baru benar-benar bebas setelah masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Rumah Kelahiran Soekarno

Rumah tempat dilahirkannya Soekarno di Surabaya kini telah dibeli oleh pemerintah Kota Surabaya dan menjadi bangunan cagar budaya bersejarah. Saat berkunjung ke rumah Bung Karno di Surabaya, Anda akan disambut dengan tulisan “Di Sini Tempat Kelahiran Bapak Bangsa Dr Ir Soekarno.”

Di Rumah Bung Karno pengunjung bisa sambil belajar sejarah dan meneladani bagaimana sosok Koesno, nama kecil Soekarno. Pengunjung juga bisa mencontoh perjuangan Soekarno dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah.

Agar tidak lupa, ada baiknya menyiapkan catatan untuk menulis bagaimana perjuangan presiden pertama Republik Indonesia ini semasa hidupnya.

Terlepas dari bangunan yang bernilai sejarah tinggi, rumah Bung Karno di Surabaya sempat menjadi polemik. Kala itu ahli waris mematok harga yang fantastis untuk rumah berukuran 5×14 meter persegi itu.

Pada 17 Agustus 2020 akhirnya rumah Bung Karno resmi dibeli oleh Pemerintah Kota Surabaya. Pertanda polemik tersebut berakhir.

Penyerahan rumah Bung Karno tepat pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sekarang Rumah Bungkarno masuk sebagai cagar budaya yang dikelola pemerintah kota. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button