Opini

Pemerintah Ajak Rakyat Patungan Bangun “Nusantara”, Saat Migor Murah Lagi Langka

Oleh: Bangsa Prabu

“Dari Rakyat, oleh Rakyat, untuk Rakyat” guna membangun Ibu Kota Negara (IKN) melalui crowd funding atau urun-dana dari masyarakat, sebagaimana dikatakan Tim Komunikasi Ibu Kota Negara (IKN), Sidik Pramono, rasanya seperti luka yang ditaburi garam. Bikin perih hati. Sekalipun urun-dana ini sifatnya donasi/sosial atau tidak dipaksakan.

Pemerintah seakan tak mempedulikan efek ekonomi akibat Covid-19 yang membuat rakyat kesulitan mencari nafkah. Belum lagi dampak harga minyak goreng yang terus melambung tinggi.

Kabarnya pemerintah juga akan menaikkan harga pajak pertambahan nilai atau PPN menjadi 11%, salah satunya minyak goreng kemasan, sehingga akan membuat harga jual migor ke konsumen akan bertambah mahal.

Saat ini, jelang bulan Ramadhan, harga sembako mulai merangkak naik. Rata-rata minyak goreng kemasan dijual dengan harga Rp23.000 – Rp25.000. Sementara itu minyak curah yang disubsidi pemerintah tak perlu dipertanyakan lagi, karena sudah menjadi barang langka.

Anehnya, usai mundurnya SoftBank dari daftar calon investor Ibu Kota Negara (IKN), seakan membuat Kepala Otorita IKN Bambang Susantono memutar otak. Bukannya fokus menangani harga migor yang selangit, pemerintah malah merengek soal mendapat dana pemindahan Ibukota Negara.

Baca Juga:   Sinyal Merah Produksi Padi di Sumsel

Padahal, sebelumnya presiden berjanji dana IKN tidak akan membebani APBN apalagi menyusahkan rakyat, hanya dibutuhkan sekitar Rp93 triliun atau setara 20 persen dari total rencana dana awal Rp466,9 triliun.

Janji itu kemudian berubah, penggunaan dana APBN jadi 53,5 persen dan anggaran IKN juga belum pasti, perkiraan akan meroket sampai Rp700 triliun.

Jika pemerintah memang berniat baik untuk mensejahterahkan rakyat, belajarlah dengan kasus Crazy Rich Medan, Indra Kesuma alias Indra Kenz yang terlibat penipuan berkedok trading binary option, Binomo.

Jika sosok Indra Kenz terancam dimiskinkan, dan sebagian besar hartanya dirampas untuk negara. Kenapa pemerintah tidak bisa memiskinkan para koruptor yang telah melakukan merampok dan menipu seluruh rakyat Indonesia.

Baca Juga:   Ketahanan Pangan: Indonesia Perlu Belajar Dengan Rusia (Bagian III)

Patungan pengusaha kelapa sawit yang tajir, dan pejabat-pejabat yang makin kaya di era pandemi, seperti Luhut Binsar Pandjaitan yang katanya sangat dermawan, seharusnya dapat menjadi alternatif crowd funding, daripada membebankan rakyat dengan dalih dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.

Bicara minyak goreng, jadi teringat lirik lagu terbaru Iwan Fals dan Raja Pane yang berjudul “Minyak Goreng” yang dirilis di YouTube awal Maret 2022. Dalam lagunya, Iwan Fals menyenandungkan, “Ini seperti tikus mati di lumbung padi. Bahan kita banyak, sawit jutaan hektar.”(*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button