Palembang, JITOE.com – Komoditas yang selama ini dianggap biasa di pasar lokal, kini mulai menarik perhatian internasional. Paha kodok asal Sumatera Selatan diminati Belgia dan siap diekspor, menyusul kopi dan kelapa yang lebih dulu tembus pasar luar negeri.
Minat Belgia terhadap paha kodok disambut serius oleh Balai Karantina Tumbuhan, Hewan, dan Ikan Sumsel. Lembaga ini mulai menyiapkan berbagai langkah strategis agar ekspor bisa segera terealisasi. Namun, ada tantangan utama yang harus diatasi, yaitu kuota tangkap yang masih terbatas dan belum mampu memenuhi permintaan pasar secara berkelanjutan.
“Paha kodok dari Sumsel sudah diminati Belgia. Namun, kuota tangkapnya masih terbatas sehingga belum bisa memenuhi permintaan ekspor secara konsisten. Ini sedang kita koordinasikan dengan dinas terkait,” kata Sri Endah, Rabu (23/07/2025).
Ia menyebutkan bahwa peluang ini bisa membuka pasar baru sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat lokal, asalkan dilakukan sesuai aturan dan berkelanjutan.
Endah menegaskan, meski ekspor paha kodok terlihat menguntungkan, proses pengawasan harus tetap dijalankan dengan ketat. Pemeriksaan laboratorium, sertifikasi karantina, hingga uji kelayakan kesehatan menjadi syarat utama sebelum produk dikirim ke negara tujuan.
Produk seperti paha kodok, lanjutnya, wajib memenuhi standar sanitary dan phytosanitary yang diberlakukan oleh negara tujuan. Ini penting untuk menjamin keamanan konsumen serta kualitas ekspor dari Sumatera Selatan.
Endah juga mengatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi memperluas jenis komoditas ekspor Sumsel. Selama ini, ekspor dari provinsi tersebut masih didominasi oleh kopi, sawit, dan karet. Dengan hadirnya komoditas baru seperti paha kodok, peluang untuk memperluas pasar pun semakin terbuka.
“Semakin beragam komoditas yang diekspor, semakin besar pula peluang Sumsel untuk menjadi salah satu motor ekonomi ekspor nasional,” tuturnya.(*)












