OKU Timur, JITOE.com – Banjir yang merendam 23 desa di Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan, diduga tidak hanya dipicu oleh tingginya curah hujan, tetapi juga dipengaruhi kondisi aliran Sungai Muara Balak di wilayah hilir.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru saat meninjau langsung lokasi banjir menyampaikan adanya indikasi penyempitan aliran Sungai Muara Balak di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), yang berpotensi menahan laju air dari hulu.
Menurut Herman Deru, Sungai Muara Balak memiliki aliran panjang hingga melintasi wilayah OKI yang berbatasan langsung dengan OKU Timur. Jika terjadi penyumbatan atau penyempitan di wilayah tersebut, dampaknya dapat menyebabkan peningkatan debit air di kawasan hulu.
“Kalau terjadi sumbatan, penyempitan di sana, di sini naik,” jelas Deru, Jumat (09/01/2026).
Menurutnya, banjir besar di kawasan terdampak bukan kejadian pertama. Berdasarkan catatan, peristiwa serupa pernah terjadi pada tahun 2002 atau sekitar 23 tahun lalu, sehingga penanganan perlu dilakukan secara menyeluruh di sepanjang aliran sungai.
Gubernur Sumsel menilai penyebab banjir tidak dapat ditelusuri hanya di wilayah OKU Timur. Ia menyebut perlu dilakukan pemeriksaan kondisi sungai hingga ke wilayah OKI untuk menentukan langkah penanganan lanjutan, termasuk kemungkinan normalisasi alur sungai.
Hal tersebut telah disampaikan Herman Deru kepada Bupati OKI Muchendi Mahzarekki. Dalam koordinasi yang dilakukan, disepakati perlunya penanganan pada titik aliran sungai yang mengalami penyempitan.
Sementara itu, Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumatera Selatan, Sudirman, menyampaikan banjir dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan Sungai Muara Balak meluap dan menggenangi permukiman warga serta lahan pertanian.
BPBD Sumsel mencatat banjir terjadi di empat kecamatan, yakni Belitang II, Belitang III, Semendawai Suku III, dan Belitang Mulya. Dari 23 desa di empat kecamatan tersebut, sebanyak 1.359 rumah terendam banjir.
“Di Belitang II, banjir terjadi di 8 desa, Belitang III 6 desa, Semendawai Suku III di 4 desa, dan Belitang Mulya di 5 desa,” ungkap Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman.
Di Kecamatan Belitang II, jumlah rumah terendam tercatat paling banyak, yakni 871 unit. Rumah-rumah tersebut tersebar di Desa Tanjung Muning sebanyak 8 unit, Sumber Makmur 7 unit, Tegal Besar 13 unit, Raman Jaya 241 unit, Kemuning Jaya 39 unit, Keli Rejo 50 unit, Batu Mas 226 unit, serta Bangun Rejo 287 unit.
Untuk Kecamatan Belitang III, BPBD mencatat 101 rumah terdampak banjir. Sebarannya meliputi Desa Nusa Jaya 52 unit, Nusa Bali 4 unit, Nusa Tenggara 12 unit, Senu Marga 12 unit, Karang Sari 6 unit, dan Ringin Sari 15 unit.
Di Kecamatan Semendawai Suku III, sebanyak 261 rumah terendam, masing-masing berada di Desa Taman Harjo 61 unit, Cahyanegeri 84 unit, Gunung Sugih 111 unit, dan Kerujon 5 unit.
Sementara itu, di Kecamatan Belitang Mulya, banjir merendam 126 rumah yang tersebar di Desa Sukoharjo 6 unit, Tulung Sari 10 unit, Ulak Buntar 18 unit, Purwodadi 84 unit, serta Rejosari 8 unit.
BPBD Sumsel memastikan terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan pemerintah kabupaten untuk penanganan darurat dan pendataan lanjutan di wilayah terdampak banjir.(*)












