JITOE.com – Konflik militer antara Iran dan Israel terus memanas sejak Jumat (13/06/2025), memicu kekhawatiran regional. Selama lima hari berturut-turut, kedua negara terlibat dalam aksi saling serang yang belum menunjukkan tanda akan berhenti. Dari rudal balistik hingga drone, serangan dilancarkan secara masif dan beruntun, menargetkan wilayah strategis hingga sipil. Dunia internasional pun mendesak gencatan senjata, namun ketegangan justru semakin meningkat.
Selasa (17/06/2025) merupakan hari kelima serangan dalam konfrontasi paling intens dalam sejarah kedua negara, yang memicu kekhawatiran akan konflik berkepanjangan yang dapat melanda Timur Tengah.
Berikut adalah perkembangan kedua kubu dari hari ke hari:
13 Juni 2025: Israel Hantam Iran, Dibalas Rudal dan Drone
Konflik bermula ketika Israel meluncurkan serangan udara ke lebih dari 12 titik di Iran, termasuk fasilitas nuklir di Natanz dan Isfahan, serta markas militer dan rumah para pejabat tinggi di Teheran. Serangan tersebut menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk Komandan Garda Revolusi Hossein Salami dan Ketua Staf Angkatan Bersenjata Mohammad Bagheri. Sejumlah ilmuwan nuklir juga dilaporkan tewas.
Menanggapi serangan itu, Iran langsung membalas di malam harinya. Sedikitnya 150 rudal balistik dan 100 drone dikirim ke wilayah Israel. Sistem pertahanan udara Iron Dome bekerja keras menangkis serangan tersebut, namun sebagian rudal tetap menghantam wilayah sipil di Yerusalem dan Tel Aviv, menyebabkan kerusakan dan korban jiwa.
14 Juni 2025: Balasan Beruntun, Fasilitas Energi Jadi Sasaran
Sabtu (14/6/2025), situasi kian memanas. Iran kembali membombardir Israel dengan ratusan rudal tambahan. Di sisi lain, Israel menargetkan ladang gas South Pars dan Bandara Mashhad sebagai respon. Korban jiwa dan kerusakan terus bertambah. Ketegangan memuncak, namun belum ada keinginan dari kedua pihak untuk menurunkan eskalasi.
Desakan internasional mulai berdatangan. PBB dan Uni Eropa meminta kedua negara menahan diri dan memulai dialog, namun Iran menegaskan akan membalas “dengan lebih menyakitkan”, sementara Israel tetap bersikukuh bahwa ancaman nuklir Iran tak bisa dibiarkan.
15 Juni 2025: Negara Barat Bereaksi, Iran Cari Celah Mediasi
Di hari ketiga, Iran dilaporkan mencoba membuka ruang komunikasi dengan Amerika Serikat untuk membahas kesepakatan nuklir yang sebelumnya gagal. Namun, upaya itu tak berlanjut karena Washington menilai kondisi belum stabil untuk negosiasi.
Sementara itu, Inggris mengirim tambahan pesawat tempur ke kawasan Timur Tengah sebagai langkah antisipatif terhadap kemungkinan ancaman Iran terhadap aset Barat. Irak juga bereaksi dan meminta Iran untuk tidak melibatkan pasukan AS di wilayahnya.
16 Juni 2025: Serangan Lanjut, Dunia Desak Gencatan Senjata
Senin (16/6/2025), situasi belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Israel dan Iran sama-sama menyatakan siap melanjutkan operasi militer bila diperlukan. Serangan udara dan rudal masih dilancarkan dari kedua pihak, membuat banyak wilayah di kedua negara dalam kondisi siaga tinggi.
PBB, Uni Eropa, dan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi kembali mendesak gencatan senjata dan dialog damai. Namun hingga kini, belum ada langkah konkret yang diambil kedua belah pihak.
Israel mengklaim serangan mereka ditujukan untuk mencegah ancaman nuklir Iran, sementara Iran menyebut agresi Israel sebagai bentuk dominasi asing yang harus dilawan secara terbuka.(*)












