Oleh: Pudiyaka
Nepal merupakan nega
ra kecil yang letaknya berada di antara dua raksasa dunia, India dan Tiongkok. Kesannya selama ini adem, diapit dua tembok besar yang bikin aman.
Tapi kenyataannya negara ini malah seperti rumah di pinggir jalan tol, bising, goyang, rawan banget kena benturan. Sering dengar Nepal karena terkait keberadaan gunung Everest, yang puncaknya tertinggi di dunia, jadi impian para pendaki.
Tapi di balik keindahan Himalaya, ada cerita gelap yang lagi panas banget sekarang. Rakyat di sana lagi ngamuk besar. Gedung Parlemen sampai dibakar, politisi dikejar-kejar. Bahkan ada kabar seorang menteri ditelanjangi masa, karena dianggap jadi simbol busuknya kekuasaan.
Ini bukan cerita dalam film, ini realita, yang sekarang lagi meledak. Kalau dilihat dari jauh mungkin mikir, “Ah, paling cuma demo biasa kayak yang sering terjadi di negara-negara sedang berkembang.”
Tapi, kali ini beda. Ini bukan sekadar orang turun ke jalan bawa spanduk, teriak-teriak terus bubar. Kini sudah masuk fase kacau balau. Levelnya sudah seperti negara di ambang runtuh. Lihat saja faktanya. Parlemen diserang, kantor pemerintah dibakar, bahkan rumah-rumah pejabat dijadikan sasaran. Terjadi amukan massa. Kenapa bisa segila itu?
Jawabannya ada di satu kata yang sering banget kita dengar, tapi kadang diremehkan yaitu ketidakadilan. Rakyat Nepal khususnya anak muda Gen Z sudah enggak tahan lagi. Dari kecil mereka dijanjikan masa depan cerah, tapi yang mereka dapat cuman pengangguran, korupsi, dan elit politik yang sibuk rebutan kursi.
Awalnya, terjadi konflik gara-gara hal yang terdengar sepele, adanya larangan aktivitas medsos. Pemerintah Nepal tiba-tiba melarang puluhan platform populer antara lain Facebook, YouTube, Instagram sampai X, Twitter. Alasan resmi katanya buat mengatur dan mengamankan data nasional.
Tapi Anda tahu sendiri. Di era sekarang medsos itu bukan cuman tempat hiburan, tapi juga nyawa komunikasi. Begitu disikat, anak muda merasa hak paling dasar mereka dirampas. Fakta Generasi Z yang sudah hidup dengan ponsel di tangan, tiba tiba dicabut akses mereka.
Ibaratnya anda merampas udara yang mereka hirup tiap hari, maka enggak heran mereka langsung ngamuk. Demo pecah makin hari makin besar dan dari situ kerusuhan mulai merembet ke mana-mana. Anda bisa lihat jelas, akhirnya bukan cuma soal medsos.
Larangan itu cuman pemicu. Bagaikan korek api yang menyulut bensin. Dibaliknya ada tumpukan masalah lama, korupsi akut, nepotisme di mana-mana, ekonomi seret, dan kesempatan kerja yang minim banget. Rakyat khususnya anak muda merasa mereka selalu jadi korban.
Sementara para pejabatnya asyiik ngisi kantong sendiri. Dan ketika suara mereka diabaikan, satu-satunya cara yang tersisa mereka turun ke jalan. Awalnya mereka protes damai, tapi begitu aparat turun tangan dengan gas air mata, peluru karet sampai peluru tajam, suasana langsung berubah jadi medan perang.
Korban berjatuhan, puluhan luka-luka, belasan nyawa melayang, dan itu bikin amarah, makin enggak terbendung. Kerusuhan menjadi semakin gila. Waktu ada berita soal gedung parlemen kebakar, nyebar ke mana-mana. Itu bukan sekadar gedung. Itu simbol kekuasaan.
Tempat para politisi sibuk debat, soal kursi dan kepentingan. Sementara rakyat di luar sana kelaparan. Jadi ketika masa menyerbu dan api mulai menjilat dinding parlemen, itu jadi semacam pesan. Rakyat sudah enggak percaya lagi dengan sistem.
Api itu punya symbol kuat. Api itu enggak cuman merusak, tapi juga mereset. Kejadian di Nepal, api yang melumat gedung parlemen itu, seperti sinyal kalau generasi baru pengen ngulang semuanya dari nol.
Pemerintah kaget setengah mati. Polisi panik tetapi gerakan masa sudah seperti ombak besar yang enggak bisa dihentikan. Mereka enggak cuma demo, tapi juga mengguncang fondasi negara. Nah, yang bikin makin panas adalah kabar tentang menteri-menteri yang jadi sasaran amukan langsung.
Bayangkan seorang pejabat tinggi negara yang biasanya tampil gagah di TV pakai jaz dan dasi tiba-tiba jadi bulan-bulanan Generasi Z yang muak. Itu bukan sekadar kekerasan fisik. Itu simbol penghinaan paling telak. Rakyat merampas martabat seorang elit di depan umum. Dan apa artinya? Itu seperti rakyat bilang, “Kami sudah enggak takut lagi sama kalian”. Militer akhirnya turun tangan.
Bayangkan jalan-jalan di Katmandu Nepal yang biasanya ramai banyak turis, pedagang, dan anak-anak muda nongkrong, sekarang dipenuhi tentara bersenjata lengkap dan diberlakukan jam malam, sehingga bikin kota yang biasanya hidup semarak, mendadak menjadi seperti kota mati. Tentara patroli di jalan, pos pemeriksaan di mana-mana dan suasana jadi tegang mencekam.
Ini sudah bukan lagi sekedar protes rakyat lawan pemerintah. Bedanya rakyat datang dengan senjata batu, kayu, dan semangat membara. Sementara aparat negara membawa senjata api dan kekuasaan penuh.
Namum perlu dipahami, semangat masa yang sudah meledak itu, enggak gampang dipadamkan, meskipun peluru tajam sekalipun sudah ditembakkan. Dan puncaknya, Perdana Menteri Nepal KP Sharma Oli akhirnya mundur. Tekanan terlalu besar, korban terus berjatuhan dan kepercayaan publik sudah hilang total.
Bayangkan seorang perdana menteri yang tadinya duduk nyaman di kursi empuk dengan kekuasaan besar ditangannya, kenyataannya harus tumbang gara-gara desakan generasi muda yang dianggap cuma cerewet di medsos. Itu sebagai bukti nyata kalau zaman sudah berubah.
Generasi Z yang sering dicap manja, apatis, atau cuma mikirin TikTok, ternyata mampu menggulingkan pemimpin dengan kekuatan kolektif mereka. Dan kasus pergolakan di Nepal ini, bikin dunia memperhatikan dengan sangat serius.
Sebagai negara kecil di Himalaya ini tiba-tiba jadi panggung revolusi paling panas di Asia. Setelah pengunduran diri Perdana Menteri, situasi bukannya langsung adem. Justru malah makin kacau. Karena kursi kekuasaan kosong itu jadi rebutan banyak pihak. Semua orang yang tadinya diam-diam saja.
Langsung mengeluarkan taringnya. Ada usulan buat tunjuk mantan Ketua Hakim Konstitusi Susila Karki sebagai pemimpin sementara. Ide ini muncul dari masa, terutama dari anak muda yang pengen sosok bersih dan enggak tercemar politik busuk lama. Tapi percaturan politik itu enggak semudah seperti milih ketua kelas. Elit-elit lama jelas enggak rela.
Mereka takut kehilangan kontrol. Jadi meskipun nama Susila Karki sempat didorong keras, sampai sekarang belum jelas juga, apakah dia bakal diangkat beneran atau cuman jadi wacana buat menenangkan masa. Yang bikin menarik adalah pola perlawanan anak muda Nepal ini, sangat mirip dengan peristiwa politik di Indonesia.
Kalau lihat dari kacamata politik global, menunjukkan kejadian pemerintah yang gagal dengarkan suara rakyat, akhirnya kehilangan legitimasinya.
Nepal itu unik. Negara ini enggak kaya-kaya amat, tapi posisinya strategis. Negara Nepal berada di antara India dan Tiongkok dua negara yang jelas punya kepentingan besar di kawasan. Jadi ketika terjadi revolusi di Nepal, jangan kira itu cuman urusan dalam negeri saja, dan yakin banget ada mata asing yang lagi ngawasin ketat.
Bahkan mungkin ada yang ikut ngaduk-ngaduk situasi biar makin panas. Karena kalau Nepal jatuh ke salah satu kubu misalnya ke India atau Tiongkok itu bisa bikin peta geopolitik Asia Selatan berubah drastis. Jadi kerusuhan ini bukan cuma drama lokal. Tapi juga bisa jadi trigger buat konflik regional kepentingan politikus yang enggak pernah selesai.
Tapi yang beda sekarang adalah wajah dari protesnya. Generasi Z yang pegang kendali. Mereka enggak seperti generasi lama yang cuma teriak-teriak atau bikin rusuh doang. Tapi mereka juga paham cara mainin narasi di media sosial, cara bikin isu mereka jadi trending global. Jadi kalau kita bilang mereka terinspirasi dari demo-demo di Indo atau negara lain, ada benarnya.
Berita gedung parlemen kebakar, demo brutal, trans-nasional walaupun secara fisik cuman di satu negara. Bahkan gaya perlawanan mereka kayak ngegas tapi tetap santai, serius tapi tetap bisa bercanda itu relate banget buat anak muda di manapun.
Tapi masalahnya, kalau pemerintah terus-terusan jawab perlawanan ini dengan kekerasan, bakal ada dua hal fatal yang kejadian. Pertama, kepercayaan rakyat makin runtuh. Kedua, dunia internasional makin menjauhi mereka. Jadi, buat pemerintah Nepal, jalan satu-satunya kalau mau survive tuh ya harus buka mata.
Mereka harus belajar ngomong pakai bahasa yang dimengerti anak muda, bukan hanya pakai yang nyata, dan ruang dialog harus dibuka selebar-lebarnya. Kalau mereka bisa rangkul energi Generasi Z ini, mungkin bisa jadi motor perubahan positif.
Tapi kalau mereka tetap keras kepala, ya tinggal tunggu waktu sampai kekuasaan mereka jatuh. Dunia juga sudah melihat fakta ini dan posisi Nepal di kancah global makin rapuh kalau mereka gagal atasi krisis.
Solusinya jelas, cara damai, pemerintah harus berhenti ngegas pakai kekerasan, buka pintu buat dialog nyata, dan kasih ruang buat anak muda jadi bagian dari solusi, bukan dimusuhin.












