Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Iklan Idul Fitri Jitoe.com
InternasionalNasional

Media Asing Soroti Pengangguran dan Kurangnya Optimisme Pemuda Terhadap Kebijakan Pemerintah Indonesia

×

Media Asing Soroti Pengangguran dan Kurangnya Optimisme Pemuda Terhadap Kebijakan Pemerintah Indonesia

Sebarkan artikel ini
Media Asing Soroti Pengangguran dan Kurangnya Optimisme Pemuda Terhadap Kebijakan Pemerintah Indonesia
Ilustrasi para pencari kerja di Indonesia | Foto: Pojok Satu

JITOE.com – Media Timur Tengah Al Jazeera menyoroti kondisi pengangguran anak muda Indonesia yang dinilai masih memprihatinkan, meski negara ini termasuk salah satu ekonomi terbesar di kawasan Asia.

Dalam laporannya, Al Jazeera mengutip data survei dari Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) atau Yusof Ishak Institute yang berbasis di Singapura, yang menyebut hanya 58 persen pemuda Indonesia yang merasa optimistis terhadap arah ekonomi pemerintah. Angka tersebut tercatat sebagai yang paling rendah di Asia Tenggara, di bawah Filipina, Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Singapura yang memiliki tingkat optimisme hingga 75 persen.

Selain itu, Al Jazeera mencatat saat ini terdapat sekitar 7 juta pengangguran di Indonesia. Meskipun secara statistik tingkat pengangguran nasional berada di kisaran 5 persen.

“Indonesia memiliki salah satu tingkat pengangguran pemuda tertinggi di Asia. Sekitar 16 persen dari lebih dari 44 juta warga Indonesia usia 15-24 tahun tidak bekerja, menurut data pemerintah, lebih dari dua kali lipat tingkat pengangguran pemuda di Thailand dan Vietnam,” demikian petikan artikel bertajuk ‘Indonesia has 44 million youths. It’s struggling to get them jobs’ .

Baca Juga:   1 Juli 2022 Tarif Listrik Pelanggan Kaya Naik

Menurut Al Jazeera sebagian besar pekerjaan yang tersedia di Indonesia disebut bersifat tidak stabil, bergaji rendah, dan tanpa jaminan sosial. Data menunjukkan sekitar 56 persen pekerja berada di sektor informal yang tidak memberikan perlindungan ketenagakerjaan, terutama bagi kelompok usia muda.

“Pekerjaan yang layak juga tidak banyak tersedia, jadi orang beralih ke sektor informal yang produktivitas dan perlindungannya lebih rendah,” ujar Ekonom CSIS Indonesia Adinova Fauri.

Al Jazeera menyebutkan berbagai faktor struktural sebagai penyebab tingginya angka pengangguran di kalangan pemuda. Salah satunya adalah sistem ketenagakerjaan yang dianggap terlalu kaku dan membatasi fleksibilitas perusahaan untuk merekrut tenaga kerja baru.

Di sisi lain, rendahnya tingkat upah turut membuat pekerjaan yang tersedia kurang menarik bagi tenaga kerja berkualitas. Banyak generasi muda akhirnya memilih menunda masuk ke dunia kerja atau mencari penghasilan di sektor informal, meski tanpa jaminan dan prospek karier yang jelas.

Baca Juga:   Ketua KPU Hasyim Asy'ari Diberhentikan Karena Tindak Asusila 'Kegatelan'

Kondisi ini memunculkan reaksi sosial dari kalangan mahasiswa yang merasa frustrasi. Pada Februari lalu, protes bertajuk “Indonesia Gelap” muncul sebagai simbol kekecewaan terhadap situasi ekonomi yang tidak memberikan ruang cukup bagi kaum muda untuk berkembang.

Meski tantangan terus membayangi, Al Jazeera mencatat bahwa pemerintah Indonesia telah menunjukkan langkah-langkah perbaikan. Upaya memperluas akses kerja, reformasi kebijakan ketenagakerjaan, dan dorongan terhadap wirausaha menjadi bagian dari strategi menekan pengangguran.

Presiden Prabowo Subianto disebut telah mengakui perlunya menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Ia membentuk satuan tugas khusus untuk menangani isu pengangguran dan berupaya membuka peluang baru lewat diplomasi perdagangan.

Dalam salah satu langkah strategis, Prabowo menjalin kesepakatan dagang dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Hasilnya, tarif impor atas produk Indonesia diturunkan dari 32 persen menjadi 19 persen. Kesepakatan ini dianggap sebagai awal dari “era baru yang saling menguntungkan” antara kedua negara.(*)

Example 120x600