Palembang, JITOE.com – Meski kasus demam berdarah dengue (DBD) di Sumatera Selatan mulai menurun, angka kematian akibat penyakit ini masih menjadi perhatian. Hingga Mei 2025, tercatat 11 orang meninggal dunia, dengan Kota Palembang sebagai wilayah paling terdampak.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sumsel, Ira Primadesa Ogahtriyah, menyebut tingginya jumlah penduduk di Palembang ikut memengaruhi jumlah korban meninggal. Ia mengingatkan bahwa risiko tetap ada meski tren penyebaran mulai melandai.
Sebelumnya, lonjakan kasus DBD sempat terjadi di awal tahun, terutama pada bulan Januari dan Februari. Saat itu, tercatat 619 kasus, yang menjadi puncak tertinggi sepanjang tahun ini.
Tren mulai menurun sejak memasuki bulan Mei. Berdasarkan data yang dihimpun, total kasus DBD kini sekitar 162. Penurunan ini diduga berkaitan erat dengan kondisi cuaca yang kembali stabil, di mana curah hujan tidak terlalu tinggi.
“Curah hujan di bulan Mei – Juni itu sudah mulai normal, jadi (DBD) cenderung turun,” jelas Ira.
Menurutnya meskipun musim kemarau mulai melanda, justru di periode inilah nyamuk Aedes aegypti cenderung lebih aktif menggigit. Karena itu, masyarakat tetap diminta waspada terhadap potensi penularan.
“Harus melakukan antisipasi, sosialisasi ke masyarakat dengan PSN, yaitu 3M: mengubur, menguras, dan menutup tempat penampungan air. Selain itu, warga juga sebaiknya menghindari gigitan nyamuk dengan memasang kelambu di rumah,” terangnya.
Di sisi lain, penggunaan kelambu saat tidur serta menghindari gigitan nyamuk di pagi dan sore hari juga dianjurkan sebagai bentuk perlindungan tambahan. Ira berharap dengan kedisiplinan bersama, angka kasus dan kematian akibat DBD bisa terus ditekan.(*)












