Banyuasin, JITOE.com – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dijadwalkan menanam langsung padi apung di Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (22/04/2025). Penanaman ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari uji coba inovasi pertanian yang digagas untuk menjawab tantangan lahan pertanian di wilayah banjir.
Kegiatan itu menjadi agenda utama kunjungan kerja Presiden dalam program Gerakan Indonesia Menanam (Gerina) yang digelar di Desa Sungai Pinang, Kecamatan Rambutan. Dalam program ini, metode tanam padi apung akan diperkenalkan sebagai solusi konkret untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Pemerintah Kabupaten Banyuasin menyambut antusias kedatangan Presiden. Sekda Erwin Ibrahim menyebut seluruh persiapan telah dilakukan, mulai dari teknis protokol hingga kesiapan lokasi. Pihaknya juga telah berkoordinasi langsung dengan tim dari Istana Negara.
“Kami sudah melakukan persiapan dan koordinasi dengan tim protokol kepresidenan, termasuk seluruh pihak di Sumsel,” kata Erwin, Selasa (22/04/2025).
Presiden dijadwalkan lepas landas dari Jakarta sekitar pukul 09.00 WIB dan tiba di Palembang pada 10.20 WIB. Setelah itu, perjalanan akan dilanjutkan dengan helikopter menuju Jakabaring, lalu menuju lokasi acara di Banyuasin. Kegiatan diperkirakan akan selesai pada pukul 13.20 WIB dan Presiden kembali ke Jakarta sore harinya.
Sekitar 250 orang diundang dalam kegiatan tersebut, termasuk sejumlah pejabat pusat dan daerah. Selain penanaman simbolis, kegiatan ini juga dijadikan momen untuk mengenalkan konsep pertanian berkelanjutan kepada masyarakat dan pemangku kebijakan.
Bupati Banyuasin, Askolani, menyampaikan bahwa metode padi apung merupakan pilot project yang tengah dikembangkan daerahnya.
“Penanaman padi apung ini menjadi salah satu langkah konkret dalam mendukung program Asta Presiden Prabowo Subianto guna mewujudkan ketahanan pangan di tingkat nasional,” jelas Askolani.
Diketahui, produksi gabah Banyuasin tahun lalu mencapai lebih dari 948 ribu ton. Tahun ini, targetnya meningkat menjadi 1,2 juta ton. Inovasi seperti padi apung diharapkan bisa berkontribusi pada pencapaian tersebut.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Banyuasin, Sarip, menjelaskan bahwa metode padi apung lebih efisien karena tak memerlukan lahan luas, hemat pupuk, dan tahan hama. Keuntungan lainnya, tanaman bisa tumbuh meski lahan tergenang, dan hama alami justru bisa dikendalikan oleh ikan di genangan tersebut.
“Jadi kondisi banjir bukan lagi halangan justru jadi peluang untuk tetap menanam dengan metode ini,” terangnya.(*)












