Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Iklan Idul Fitri Jitoe.com
NasionalPeristiwa

Peringatan bagi Penumpang Bus: Kurangnya Empati Petugas Bisa Jadi Risiko Perjalanan

×

Peringatan bagi Penumpang Bus: Kurangnya Empati Petugas Bisa Jadi Risiko Perjalanan

Sebarkan artikel ini

Palembang, Jitoe.com – Calon penumpang bus antarkota diimbau lebih berhati-hati saat bepergian. Selain faktor keselamatan di jalan, sikap dan empati petugas di lapangan kini menjadi hal yang patut diwaspadai, terutama bagi penumpang lanjut usia atau yang memiliki keterbatasan fisik.

Pengalaman pahit dialami seorang perempuan lanjut usia bernama Nur (63) yang hendak bepergian menuju Palembang menggunakan bus eksekutif Rosalia Indah. Nur berangkat dari Simpang Sampang, Cilacap, pada 23 Januari 2026.

Sejak pukul 17.00 WIB, Nur sudah berada di loket menunggu kedatangan bus. Saat waktu salat tiba sekitar 19.15 WIB, ia menunaikan ibadah. Namun, di saat bersamaan bus yang ditunggu datang lebih cepat. Karena khawatir bus tidak mau menunggu, Nur bergegas menuju kendaraan tersebut.

Akibat terburu-buru, Nur mengalami cedera di bagian lutut setelah menabrak benda keras. Rasa sakit membuatnya kesulitan berjalan, namun ia tetap memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan.

Masalah tidak berhenti di situ. Saat bus tiba di rest area Subang, penumpang diwajibkan turun untuk beristirahat dan makan. Waktu itu sudah lewat tengah malam, menjelang dini hari. Dengan kondisi kaki yang cedera, Nur mencoba meminta kebijakan kepada karnet bus agar diizinkan tetap berada di dalam kendaraan.

Baca Juga:   Klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan Tembus 35.000, Disebabkan Gelombang PHK

Ia menjelaskan bahwa kakinya sakit dan sulit berjalan. Namun, permintaan itu ditolak mentah-mentah. Bahkan, karnet bus menyatakan semua penumpang wajib turun dengan alasan khawatir barang-barang di dalam bus bisa hilang.

Penjelasan Nur mengenai cederanya yang terjadi akibat terburu-buru naik bus tidak mendapat empati. Alih-alih simpati, ia justru menerima jawaban yang menyakitkan hati. “Itu urusan Anda, kami tidak mau tahu,” ujar karnet tersebut.

Ucapan itu membuat Nur merasa terpukul. Selain tidak mendapat bantuan, ia merasa dituduh seolah-olah berpotensi melakukan pencurian, serta diabaikan kondisinya sebagai penumpang lansia yang sedang kesakitan.

Dalam kondisi tertekan dan khawatir, Nur menghubungi suaminya, Syahril, yang berada di Palembang. Ia menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya di Subang, terutama kekhawatirannya saat harus melanjutkan perjalanan hingga menyeberang di Merak dengan kondisi fisik yang terbatas.

Baca Juga:   Heboh, Penemuan Mayat Tersangkut di Pinggiran Aliran Sungai Ogan Kelurahan Batukuning

Syahril kemudian mengadukan peristiwa tersebut ke pihak PT Rosalia Indah melalui layanan call center. Dari pihak perusahaan, disampaikan permohonan maaf dan penjelasan bahwa karnet yang bersangkutan akan dipanggil serta dimintai keterangan atas tindakannya.

Syahril, yang juga Ketua Forum Pemimpin Redaksi dan Penerbit Sumatera Selatan, menyayangkan keras sikap petugas lapangan yang dinilainya tidak memiliki empati dan adab, terlebih kepada penumpang yang lebih tua dan sedang mengalami cedera.

“Tolong ajari adab kepada petugas di lapangan, bagaimana memperlakukan pelanggan dengan manusiawi,” tegas Syahril.

Ia pun mengingatkan masyarakat yang hendak bepergian agar lebih waspada dan berhati-hati. Menurutnya, di tengah layanan transportasi yang semakin sibuk, sikap empati dan etika pelayanan justru terasa semakin langka. (*)

Example 120x600