Palembang, JITOE.com – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mendorong produsen minyak goreng memperbanyak produksi merek lapis kedua atau second brand sebagai alternatif di tengah keterbatasan skema Domestic Market Obligation (DMO). Kebijakan ini disampaikan saat kunjungan kerja di Palembang, Kamis (12/02/2026).
Menurut Budi, Minyak Kita yang saat ini beredar masih berbasis DMO, sehingga volumenya bergantung pada pasokan bahan baku, termasuk impor sawit.
“Minyak Kita ini berbasis DMO. Kalau impor turun, otomatis stok DMO juga turun,” jelasnya.
Produksi Minyak Kita di Palembang saat ini tercatat mencapai sekitar 72 ribu liter per hari atau setara 6 ribu dus. Program tersebut telah berjalan sekitar tiga tahun sebagai bagian dari kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas harga minyak goreng di dalam negeri.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mendorong perusahaan menghadirkan second brand agar masyarakat tetap memiliki pilihan produk di pasaran. Merek lapis kedua tersebut direncanakan diproduksi dalam berbagai ukuran kemasan.
Ia mencontohkan kemasan kecil seperti 250 mililiter yang dinilai dapat memberikan opsi harga lebih terjangkau bagi konsumen. Dengan variasi ukuran tersebut, harga produk akan menyesuaikan mekanisme pasar karena tidak diatur melalui harga eceran tertinggi (HET).
“Sehingga masyarakat ketika ingin membeli minyak goreng ada banyak pilihan, bisa memilih harga yang lebih murah,” kata Budi.(*)












