Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Refleksi

Lampu Merah Penanda Arah Pulang

×

Lampu Merah Penanda Arah Pulang

Sebarkan artikel ini
Lampu merah, Penanda Arah Pulang
Lampu merah, Penanda Arah Pulang

Hidup ini sering kali seperti lampu merah di persimpangan jalan. Kita berhenti sejenak, menunggu giliran untuk melaju. Di momen itu, sebagian orang merasa gelisah — menghitung detik demi detik agar segera berubah menjadi hijau. Ada yang menekan-nekan gas, berharap waktu berputar lebih cepat.

Namun, jarang yang sadar: setiap detik yang berlalu bukan hanya mendekatkan kita pada lampu hijau di jalan, tapi juga mengurangi jatah hidup yang tersisa. Setiap pergantian warna bukan sekadar tanda lalu lintas, tapi juga simbol bahwa usia manusia terus berpindah dari “menunggu” menuju “meninggalkan”.

Rasulullah SAW pernah bersabda:
> “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan.”
(HR. Tirmidzi)

Baca Juga:   Menghitung Kejujuran

Setiap detik adalah amanah. Setiap waktu yang kita lewati akan dimintai pertanggungjawaban. Maka, apakah pantas kita justru ingin waktu berlalu lebih cepat, padahal setiap detik berarti satu langkah lebih dekat pada akhir perjalanan?

Allah SWT. juga mengingatkan dalam firman-Nya:
> “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Ayat ini adalah alarm lembut bagi jiwa: waktu terus berjalan, dan hanya mereka yang mengisinya dengan iman, amal, dan kesabaran yang tak merugi.

Baca Juga:   Ketika pemuda Nasrani bertemu Rasulullah di Thaif

Maka, mungkin saat kita berhenti di lampu merah berikutnya, tak perlu tergesa menunggu hijau. Gunakan detik-detik itu untuk merenung, bersyukur, atau sekadar berzikir. Karena bisa jadi, lampu merah itu bukan penunda perjalanan kita — tetapi pengingat agar kita tak lupa arah pulang. (*)

Example 120x600