Ada satu kisah yang terjadi di antara perjalanan suci, dari Makkah menuju Madinah. Sebuah kisah yang mungkin tampak sederhana, namun menyimpan rasa yang dalam — perasaan yang sulit dijelaskan oleh logika, tetapi begitu kuat dirasakan oleh hati.
Hari itu, para jemaah dari Travel Momen Wisata Imani bersiap meninggalkan Hotel Maden, Makkah. Bus telah siap di depan hotel, menanti rombongan yang hendak berangkat menuju Kota Nabi SAW, Madinah Al-Munawwarah. Suasana hangat, penuh haru. Sebagian jemaah menitikkan air mata saat meninggalkan Tanah Haram — rumah Ka’bah, tempat doa-doa terucap paling jujur.
Di tengah hiruk pikuk keberangkatan itu, mata ini tertuju pada satu keluarga yang ikut naik ke dalam bus yang sama. Wajah mereka belum pernah saya lihat sebelumnya. Kami berasal dari daerah yang berbeda, bahkan dari provinsi yang jauh. Namun entah mengapa, ada sesuatu yang terasa begitu akrab. Setiap kali melihatnya, hati ini seperti berbisik: “Aku pernah mengenal mereka.”
Tentu saja, secara duniawi, kami belum pernah bersua. Tidak pernah berjumpa, tidak pernah bertegur sapa, bahkan mungkin tak pernah berada di kota yang sama. Tapi rasa kedekatan itu hadir begitu kuat, seolah-olah ruh ini sedang mengenali sesuatu yang telah lama hilang.
Dalam pandangan tasawuf, perasaan seperti itu disebut ta‘āruf ar-rūḥ — pertemuan ruh. Rasulullah SAW bersabda:
“Arwāḥun junūdun mujannadah, famā ta‘ārafa minhā’t-talaf, wa mā tanākara minhā’khtalaf.”
(Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang berkelompok; yang saling mengenal akan saling mendekat, dan yang saling asing akan saling menjauh.) — HR. Muslim.
Para ahli tasawuf menafsirkan bahwa ruh manusia telah saling mengenal di alam sebelum jasad diciptakan. Maka ketika dua ruh yang pernah berjumpa di alam ruh bertemu kembali di dunia, mereka saling mengenali tanpa perlu nama, asal, atau sejarah pertemuan.
Mungkin itulah yang terjadi di bus itu — di antara lantunan talbiyah yang masih terucap lirih dan hamparan padang pasir di luar jendela. Ketika jasad duduk berdampingan, ruh-ruh saling menyapa tanpa kata. Ada rasa damai, tenang, dan hangat yang sukar dijelaskan.
Bagi sebagian orang, hal ini bisa dianggap kebetulan. Namun bagi hati yang peka terhadap rahasia Ilahi, tidak ada yang benar-benar kebetulan di jalan menuju Allah. Setiap pertemuan adalah isyarat, dan setiap rasa adalah pesan.
Barangkali, keluarga itu dihadirkan Allah sebagai pengingat — bahwa perjalanan spiritual bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi juga tentang siapa yang dihadirkan untuk kita temui di jalan itu. Karena di balik setiap tatapan yang terasa familiar, ada kisah ruh yang mungkin telah lama bersaudara di hadapan-Nya.
Dan ketika bus itu perlahan melaju meninggalkan Makkah menuju Madinah, hati ini kembali bergetar. Mungkin tubuh kami berpisah di bumi, tapi ruh-ruh yang telah saling mengenal, akan tetap tersambung dalam rahasia takdir yang ditulis oleh Tuhan. (*)












