Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Refleksi

Sedih Melihat Mereka, dan Diri Sendiri

×

Sedih Melihat Mereka, dan Diri Sendiri

Sebarkan artikel ini

Ada rasa sedih yang sulit dijelaskan ketika melihat orang tua yang sudah sepuh, tapi salah dalam berwudhu. Bukan karena kita merasa lebih tahu, tetapi karena khawatir ibadahnya tidak sempurna. Pernah ada yang menegurnya dengan niat baik, mengajarkan cara yang benar. Namun, teguran itu justru membuatnya menjauh, tak lagi terlihat di saf jamaah. Kini, alhamdulillah, ia datang lagi. Tapi bayangan luka di hatinya mungkin masih ada. Betapa mudah niat baik berubah menjadi sebab seseorang menjauh dari masjid, hanya karena cara kita menyampaikannya tak berhikmah.

Ada pula rasa pilu melihat sebagian jamaah yang hatinya menyimpan ganjalan pada imamnya. Seakan merasa lebih baik, lebih pantas, lebih suci. Padahal Rasulullah SAW mengingatkan, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau seberat biji sawi.” (HR. Muslim).
Bagaimana mungkin shalat yang mestinya menjadi jalan menuju Allah justru dikotori oleh rasa tinggi hati terhadap sesama hamba-Nya?

Baca Juga:   Menjaga Lisan, Menjaga Adab dalam Salat

Dan aku pun sedih melihat kawan yang lebih tua dariku, tapi hari-harinya dihabiskan hanya untuk bermain domino di warung kopi. Adzan berkumandang, tapi tawa di meja masih lebih nyaring dari panggilan langit. Seolah waktu berhenti, padahal usia terus berjalan tanpa henti.

Kadang aku merenung, jangan-jangan kesedihan ini bukan hanya tentang mereka — tapi juga tentang diriku sendiri. Mungkin aku pun punya kesalahan yang belum kusadari. Mungkin aku juga lalai, sombong, atau merasa lebih baik dari yang lain.

Kita semua sedang belajar menuju Allah. Sebagian tersandung di langkah awal, sebagian goyah di pertengahan, dan tak sedikit yang hampir sampai tapi berhenti karena hati yang tak dijaga.

Baca Juga:   Ketika pemuda Nasrani bertemu Rasulullah di Thaif

Semoga kita tidak sekadar pandai menilai, tapi juga mampu mendoakan. Tidak hanya menegur dengan lisan, tapi menuntun dengan kasih. Karena setiap jiwa punya jalan pulang — asal kita tak menutup pintunya. (*)

Example 120x600