Palembang, JITOE.com – Warga Sumatera Selatan beberapa hari terakhir dibuat tak nyaman oleh teriknya cuaca yang terasa membakar kulit. Di Palembang, suhu udara bahkan terasa seolah menembus 40 derajat Celsius, membuat siapa pun yang beraktivitas di luar rumah harus menahan panas yang menyengat sejak pagi hingga siang.
Fenomena ini bukan sekadar perasaan semata. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa wilayah Sumsel sedang berada di puncak suhu maksimum. Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Sumsel, Wandayantolis, menjelaskan, panas ekstrem ini terjadi akibat gerak semu matahari yang kini melintasi Sumatera bagian selatan, ditambah minimnya pertumbuhan awan penghujan dalam beberapa hari terakhir.
“Sinar matahari langsung mengenai permukaan bumi tanpa penghalang. Itulah sebabnya udara terasa lebih menyengat dari biasanya,” ucap Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sumsel Wandayantolis.
BMKG mencatat suhu di sebagian besar wilayah Sumsel berada di kisaran 33 hingga 35 derajat Celsius, namun sensasi panas yang dirasakan masyarakat bisa jauh lebih tinggi. Kondisi ini akan berlangsung hingga awal November sebelum suhu berangsur menurun seiring meningkatnya intensitas hujan.
“Awal November nanti, suhu mulai turun karena posisi matahari bergeser ke selatan dan peluang hujan di wilayah Sumsel mulai meningkat,” jelasnya.
Meski disebut masih dalam batas normal, cuaca panas berkepanjangan ini ikut memicu kekhawatiran akan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sejumlah daerah seperti Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Banyuasin, hingga Musi Banyuasin masih termasuk dalam wilayah rawan karena jeda hujan cukup panjang.
Tak hanya itu, dampak bagi kesehatan masyarakat juga perlu diwaspadai. BMKG mengingatkan agar warga menghindari paparan langsung sinar matahari pada jam-jam terpanas, serta memperbanyak konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi.
“Masyarakat sebaiknya tidak terlalu lama beraktivitas di luar ruangan pada siang hari. Gunakan topi, payung, atau sunscreen, dan tetap jaga asupan cairan tubuh,” pesan Wandayantolis.
Dalam sepekan terakhir, fenomena ini bahkan membuat warga di sejumlah wilayah di Palembang memilih mengurangi aktivitas luar ruangan. Beberapa pengendara terlihat menutup wajah dengan kain atau jaket tebal untuk menghindari panas langsung, sementara pekerja lapangan harus sering beristirahat di tempat teduh.
BMKG memastikan kondisi ini akan segera berangsur membaik dalam beberapa pekan mendatang, namun masyarakat diimbau tetap waspada terhadap bahaya paparan sinar ultraviolet (UV) yang tinggi selama periode cuaca ekstrem ini.(*)












