Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Refleksi

Syukur yang Sering Terlambat

×

Syukur yang Sering Terlambat

Sebarkan artikel ini
syukur dan doa
syukur dan doa

Kita seringkali baru menyadari nilai dari sesuatu setelah kehilangannya. Saat belum memiliki mobil, misalnya, kita bisa sangat berharap dan berdoa agar Allah memberikannya. Kita bekerja keras, menabung, bahkan mungkin berkorban banyak hal demi memiliki kendaraan pribadi.

Namun, setelah mobil itu ada di garasi, apakah kita masih punya rasa syukur yang sama? Seringkali tidak. Kita mulai mengeluh soal biaya bensin, pajak kendaraan, atau servis bulanan. Mobil yang dulu begitu diidamkan, kini hanya menjadi alat biasa yang tak lagi istimewa.

Begitu pula dengan kesehatan. Saat tubuh bugar dan bisa bergerak ke mana saja, kita lupa bahwa itu adalah nikmat. Baru ketika sakit datang—bahkan hanya flu ringan atau nyeri sendi—kita merasa kehilangan banyak hal. Aktivitas tertunda, ibadah terasa berat, tidur tak nyenyak. Barulah kita sadar: sehat adalah karunia besar.

Baca Juga:   Ketika pemuda Nasrani bertemu Rasulullah di Thaif

Lebih dari semua itu, ada nikmat yang paling sering kita abaikan—iman kepada Allah. Saat hati sedang tenang, kehidupan berjalan lancar, dan rezeki terasa cukup, kita jarang sekali merenung tentang bagaimana kondisi iman kita. Apakah masih kuat? Apakah masih hidup? Ataukah hanya sekadar identitas?

Padahal, ketika iman mulai melemah, hidup akan kehilangan arah. Kita menjadi mudah putus asa, gampang marah, dan merasa kosong. Tapi karena lemahnya iman tidak tampak secara kasat mata, kita kerap tak menyadarinya, hingga suatu hari hati terasa benar-benar gelap.

Baca Juga:   Korupsi: Apa Enaknya?

Semua ini mengajarkan satu hal: syukur itu bukanlah reaksi setelah kehilangan, tetapi kesadaran saat nikmat itu masih bersama kita. Bersyukur bukan hanya mengucap “alhamdulillah”, tapi juga menjaga, merawat, dan memaksimalkan nikmat yang telah Allah titipkan.

Mari kita mulai hari ini dengan merenungi: Apa saja yang sudah Allah berikan kepada kita, namun belum benar-benar kita syukuri? Mobil, rumah, pekerjaan, pasangan, anak, kesehatan, dan terutama—iman.

Sebelum semuanya hanya tinggal kenangan, mari kita syukuri. Bukan hanya dalam kata, tapi dalam sikap dan perbuatan. Karena nikmat yang tidak disyukuri, sangat mungkin akan Allah cabut. Dan saat itu terjadi, barulah kita sadar: betapa berharganya hal-hal yang dulu kita abaikan. (*)

Example 120x600