Palembang, JITOE.com – Warga Sumatera Selatan diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat siang hingga sore hari. BMKG memperingatkan bahwa wilayah ini tengah memasuki masa pancaroba, fase peralihan dari musim hujan menuju kemarau, yang berpotensi memicu cuaca ekstrem angin kencang hingga puting beliung.
Koordinator BMKG Sumsel, Wandayantolis, menjelaskan bahwa suhu yang menghangat dengan cepat di pagi hari bisa menyebabkan pembentukan awan konvektif kuat. Hal inilah yang kerap menjadi pemicu terjadinya fenomena cuaca ekstrem secara mendadak.
“Pola cuaca pada masa pancaroba juga cenderung berubah dengan cepat. Pemanasan intensif pada pagi hari bisa memicu pembentukan sistem konvektif kuat di siang hingga sore hari. Hal ini dapat menyebabkan angin kencang, puting beliung bahkan hujan es,” jelasnya.
Selain perubahan cuaca yang drastis, peningkatan suhu juga menjadi perhatian. Puncak panas tahunan pertama biasanya terjadi sekitar Mei, yang ditandai dengan hari-hari tanpa hujan (HTH) yang lebih panjang, mencapai 3 hingga 6 hari. Minimnya kelembaban dan pembentukan awan membuat suhu terasa lebih menyengat.
BMKG juga mencatat curah hujan bervariasi di berbagai daerah. Beberapa wilayah seperti Lahat, bagian barat Muara Enim, dan OKU Selatan bagian utara tercatat memiliki curah hujan tinggi. Namun, sebagian besar daerah lain seperti Palembang, Prabumulih, dan Ogan Ilir justru mengalami curah hujan rendah di bawah 50 mm.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas luar ruangan di siang hari, menggunakan pelindung diri seperti topi dan tabir surya, serta rutin mengonsumsi air putih. Warga juga diminta waspada terhadap potensi hujan deras tiba-tiba dan angin kencang.
BMKG menekankan bahwa perubahan cuaca ini merupakan fase tahunan yang wajar, namun tetap perlu disikapi dengan langkah antisipatif agar tidak menimbulkan dampak yang lebih besar, terutama terhadap kesehatan dan keselamatan.(*)












