Perjalanan panjang menuju tanah suci selalu membawa rasa haru. Ketika langkah sampai di kota Thaif, rasa lelah seolah tidak berarti, karena di sinilah jejak agung Rasulullah ﷺ masih terasa.
Thaif hari ini adalah kota yang sejuk, hijau, dan indah. Namun, di balik kesejukan itu, tersimpan kisah paling menyayat hati dalam perjuangan dakwah Rasulullah ﷺ. Saat saya memandang jalan-jalan kota ini, terbayang seakan kisah itu terjadi kembali di depan mata.

Saya membayangkan Rasulullah ﷺ berjalan penuh harap, mengetuk hati penduduk Thaif agar menerima risalah Islam. Tetapi harapan itu berubah menjadi luka. Beliau diusir, dihina, dan dilempari batu. Tubuh suci beliau berdarah, langkahnya tertatih, hingga beliau mencari perlindungan di sebuah kebun anggur.
Di tempat inilah Rasulullah ﷺ berdoa dengan penuh kepasrahan: mengadukan kelemahan dirinya kepada Allah, namun tetap tegar karena yang beliau khawatirkan hanya murka Allah. Dan di saat tawaran malaikat untuk menghancurkan Thaif datang, beliau justru menolaknya. Beliau memilih doa terbaik: “Aku berharap dari keturunan mereka lahir orang-orang yang beriman.”
Kini, ketika berdiri di Thaif, saya merasakan seolah-olah darah perjuangan itu masih membekas di tanah ini. Setiap hembusan angin membawa pesan kesabaran. Setiap sudut kota menjadi saksi agung betapa Rasulullah ﷺ menanggung sakit demi sampainya Islam hingga ke seluruh penjuru dunia, termasuk kepada kita hari ini. (*)












