Di sejumlah masjid, sering muncul keluhan dari jamaah bahwa bacaan imam dalam Surah Al-Fatihah terdengar tidak tepat. Salah satu yang paling sering disalahpahami adalah lafaz *“ghairil maghdhubi ‘alaihim” (غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ)* yang oleh sebagian makmum terdengar seperti *“wairil”*.
Padahal, dalam ilmu tajwid dan tata bahasa Arab, *“wairil”* adalah bacaan yang keliru, karena tidak sesuai dengan huruf asli dalam Al-Qur’an. Lalu mengapa hal ini bisa terjadi? Salah satu penyebab utamanya adalah distorsi suara akibat kualitas sound system yang tidak optimal.
1. Makna dan Lafal yang Benar
Lafaz yang benar dalam Surah Al-Fatihah ayat ke-7 adalah:
> *غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ*
> *Ghairil maghdhubi ‘alaihim wa lad-dhallin*
Kata *“ghair” (غَيْر)* berarti *“bukan”. Huruf pertamanya adalah **ghain (غ), bukan **wawu (و)*. Oleh karena itu, pembacaan “wairil” jelas keliru dari sisi tajwid dan makna.
2. Penyebab Distorsi Suara
Bacaan yang sebenarnya benar bisa terdengar salah karena masalah teknis pada sistem pengeras suara. Beberapa penyebabnya antara lain:
Mikrofon tidak sensitif atau terlalu jauh dari mulut imam
Huruf-huruf tertentu seperti *ghain (غ)* memiliki karakteristik suara yang berat dan samar. Jika mikrofon tidak menangkap suara dengan jelas, huruf ini bisa terdengar seperti *“w”*.
Speaker berkualitas rendah atau rusak
Speaker yang mengeluarkan suara dengan frekuensi tidak seimbang dapat mengaburkan artikulasi huruf-huruf dalam bacaan Al-Qur’an, terutama jika dipasang di tempat yang bergema.
Pengaturan gain atau volume yang tidak tepat
Suara yang terlalu kecil atau terlalu besar bisa menimbulkan suara pecah, gemuruh, atau desisan yang menutupi kejelasan lafal huruf.
Penempatan speaker yang tidak merata
Jika suara hanya terdengar dari satu arah atau terlalu jauh dari jamaah, maka suara asli imam bisa teredam atau bergema, sehingga menyebabkan kesalahan persepsi.
3. Solusi yang Disarankan
Untuk menghindari kesalahpahaman ini, pengurus masjid sebaiknya:
* ✅ Melakukan *pengecekan rutin* terhadap kualitas sound system.
* ✅ Mengganti *mikrofon dan speaker* yang sudah usang atau tidak layak pakai.
* ✅ Mengatur ulang *pengaturan audio* oleh teknisi yang berpengalaman.
* ✅ Melatih imam untuk memperjelas makhraj huruf, khususnya huruf-huruf berat seperti *ghain (غ), *‘ain (ع)*, dan **qaf (ق)*.
* ✅ Mengedukasi jamaah bahwa jika terdengar berbeda, bisa jadi itu akibat teknis, bukan kesalahan bacaan.
4. Kesimpulan
Kesalahpahaman antara *“ghairil”* dan *“wairil”* sering kali bukan karena kesalahan imam, tetapi akibat *distorsi suara* dan *persepsi pendengaran jamaah* yang dipengaruhi kualitas sound system. Karena itu, penting bagi pengurus masjid untuk memperhatikan aspek teknis ini agar kekhusyukan dan ketepatan bacaan dalam salat tetap terjaga. (Syahril Fauzi, Pengurus Yayasan Satu Ihsan Palembang)












