Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Iklan Idul Fitri Jitoe.com
OKISUMSEL

Dampak Banjir, 6.551 Hektar Sawah di OKI Alami Gagal Panen

×

Dampak Banjir, 6.551 Hektar Sawah di OKI Alami Gagal Panen

Sebarkan artikel ini
Dampak Banjir, 6.551 Hektar Sawah di OKI Alami Gagal Panen
Ilustrasi JITOE: padi gagal panel

OKI, JITOE.com – Banjir yang melanda Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, sejak 10 Januari 2026 berdampak langsung pada sektor pertanian. Ribuan hektar lahan padi dilaporkan terendam air dan mengalami gagal panen.

Hingga Selasa (13/01/2026), genangan banjir masih bertahan di sejumlah area persawahan akibat hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas pertanian di beberapa kecamatan terganggu.

“Total lahan padi yang terendam banjir dan mengalami fuso tercatat seluas 6.551,5 hektar,” kata Kepala UPTD Balai Pelaksana Penyuluhan Pertanian (BPPP) Kabupaten OKI, Herman, Selasa (13/01/2026).

Lahan pertanian yang terendam tersebut tersebar di beberapa kecamatan, antara lain Air Sugihan, Jejawi, Lempuing, Lempuing Jaya, dan SP Padang. Dari wilayah tersebut, Kecamatan Jejawi tercatat sebagai daerah dengan luasan terdampak paling besar.

Baca Juga:   KPU Sumsel Pastikan TPS Pemilu 2024 Ramah Pemilih Disabilitas

Menurut Herman, total lahan padi yang mengalami fuso di Kecamatan Jejawi mencapai sekitar 2.548 hektar. Kondisi ini membuat produksi padi di wilayah tersebut terhambat dan berdampak pada petani setempat.

Ia menjelaskan seluruh data lahan pertanian terdampak banjir telah dilaporkan secara daring kepada Kementerian Pertanian Republik Indonesia sebagai bagian dari proses evaluasi dan tindak lanjut.

Selain melakukan pelaporan, Balai Pelaksana Penyuluhan Pertanian OKI juga melaksanakan sejumlah langkah penanganan di lapangan. Upaya tersebut meliputi pendataan petani terdampak, identifikasi lahan pertanian, serta penyaluran bantuan benih dan bahan pangan.

Bantuan lain yang disalurkan mencakup beras dan pangan siap masak bagi petani yang sawahnya terdampak banjir. Penyaluran dilakukan untuk membantu kebutuhan dasar masyarakat selama masa genangan.

Baca Juga:   Warga RT.22 Sukabangun Protes Rencana Pembangunan Townhouse

Petugas pertanian juga melakukan identifikasi penyebab banjir. Berdasarkan hasil penelusuran, banjir dipicu oleh cuaca ekstrem dan anomali iklim, di mana periode Desember hingga Februari merupakan fase dengan curah hujan tinggi.

Kondisi tersebut diperparah dengan jebolnya tanggul dari wilayah OKU yang mengalir ke wilayah OKI. Aliran air tersebut berdampak signifikan terhadap Kecamatan Lempuing dan Lempuing Jaya.

Herman mengingatkan potensi hujan dengan intensitas tinggi masih dapat terjadi ke depan. Oleh karena itu, pihaknya meminta petani dan pemangku kepentingan terkait untuk tetap meningkatkan kewaspadaan.

Ia juga menyampaikan UPTD Pertanian OKI akan terus melakukan langkah-langkah pendampingan dan penanganan guna membantu petani yang terdampak banjir di wilayah tersebut.(*)

Example 120x600