Palembang, JITOE.com – Pemerintah Kota Palembang menargetkan pengolahan hingga 1.000 ton sampah per hari melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kawasan Keramasan. Fasilitas ini diproyeksikan mampu menghasilkan listrik sampai 20 megawatt (MW).
Wali Kota Ratu Dewa menyampaikan produksi sampah harian Palembang saat ini mencapai sekitar 1.200 ton. Dengan kapasitas tersebut, PLTSa disebut akan memangkas beban tempat pemrosesan akhir sekaligus menekan volume sampah kota hingga 30 persen.
“PLTSa ini akan berperan besar dalam menekan volume sampah secara signifikan, bahkan hingga 80 persen volume yang masuk fasilitas,” ujar Dewa.
Selain mengurangi timbunan, fasilitas ini juga dirancang untuk menekan emisi gas metana yang selama ini muncul dari sistem pembuangan terbuka.
Operasional PLTSa direncanakan berlangsung hampir 24 jam setiap hari. Dalam satu jam, sekitar 40 hingga 50 ton sampah akan diproses melalui pembakaran bersuhu tinggi. Panas yang dihasilkan kemudian diubah menjadi uap untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik.
Meski demikian, persoalan distribusi sampah masih menjadi tantangan. Saat ini terdapat sekitar 160 armada pengangkut yang melayani 18 kecamatan. Untuk mendukung operasional maksimal PLTSa, kebutuhan armada diperkirakan mencapai 220 unit atau masih kurang sekitar 60 kendaraan.
“Kita perlu peremajaan kendaraan tua dan pengadaan armada baru agar sistem distribusi sampah benar-benar efektif dan efisien. Manajemen pengelolaan sampah ke depan harus berbasis data yang akurat,” tambahnya,
Di sisi lain, pemerintah kota juga memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui program bank sampah di tingkat kelurahan. Program satu kelurahan satu bank sampah telah terealisasi di 96 dari total 107 kelurahan.
Setiap bank sampah disebut mampu mengurangi 0,5 hingga 1 ton sampah per hari. Secara keseluruhan, kontribusinya diperkirakan mencapai 50 sampai 100 ton per hari atau sekitar 4 hingga 8 persen dari total produksi sampah harian kota.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Palembang, Akhmad Mustain, menerangkan sampah yang masuk akan ditampung lebih dulu di bunker selama kurang lebih tujuh hari sebelum memasuki tahap pembakaran. Sistem tersebut dilengkapi penyaring emisi berlapis dan pemantauan berkala untuk memastikan batas ambang lingkungan tetap terjaga.
Dari total listrik yang diproduksi, LTSa Keramasan akan memberikan kontribusi terhadap penyediaan listrik dengan proyeksi daya listrik dapat menghasilkan 20 megawatt (MW), sekitar 17,7 MW direncanakan disalurkan ke jaringan milik Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sisa daya digunakan untuk kebutuhan operasional fasilitas.
Mustain mengklaim, insinerator akan menjadi bagian kunci dalam proses pengolahan sampah. Sistemasinya, sampah akan dibakar pada suhu tinggi untuk menghasilkan uap titik uap itu lalu, digunakan untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik.
“Kita berharap, ini dapat memperkuat backbone listrik Palembang, yang seiring pertumbuhannya membutuhkan tambahan pasokan energi,” katanya.
Melalui kombinasi operasional PLTSa berkapasitas besar dan partisipasi warga dalam pemilahan sampah, pemerintah kota menargetkan persoalan sampah di Palembang dapat ditekan secara bertahap sekaligus menghasilkan tambahan pasokan energi listrik bagi masyarakat.(*)












