Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Prabumulih

Lahan Tidur Jadi Ladang Harapan, Kaum Ibu Prabumulih Wujudkan Kemandirian Pangan

×

Lahan Tidur Jadi Ladang Harapan, Kaum Ibu Prabumulih Wujudkan Kemandirian Pangan

Sebarkan artikel ini
Tri Ningsih bersama anggota KWT Kemuning berhasil mewujudkan ketahanan pangan keluarga setelah mengikuti berbagai pelatihan dalam program MUDA BERSAMA yang dilaksanakan PEP Prabumulih Field.
Tri Ningsih bersama anggota KWT Kemuning berhasil mewujudkan ketahanan pangan keluarga setelah mengikuti berbagai pelatihan dalam program MUDA BERSAMA yang dilaksanakan PEP Prabumulih Field.

Prabumulih, Jitoe.com – Tingginya harga bahan pangan menjadi perhatian utama para ibu rumah tangga, termasuk Tri Ningsih, warga Kelurahan Patih Galung, Kota Prabumulih. Ia terus mencari cara kreatif untuk memenuhi kebutuhan dapur di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok.

Setiap pekan, Tri Ningsih harus mengeluarkan sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu untuk berbelanja di pasar. Kondisi tersebut membuatnya terpikir untuk memanfaatkan pekarangan rumah yang selama ini hanya menjadi lahan tidur.

Perempuan berusia 57 tahun itu pun mulai membersihkan ilalang di sekitar rumahnya. Ia mencoba menanam berbagai sayur dan umbi-umbian untuk kebutuhan keluarga. Namun, upaya awal tersebut belum membuahkan hasil. Minimnya pengetahuan tentang teknik budidaya membuat hasil tanamannya tidak optimal.

Di saat yang sama, Pertamina EP Prabumulih Field yang merupakan bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 sedang mengampanyekan program dukungan kemandirian pangan melalui program MUDA BERSAMA (Perempuan Berdaya, Bersama Kelola Sampah).

Baca Juga:   86 Rumah warga Kel. Tg. Rambang Disapu Angin Puting Beliung

Melalui program tersebut, Pertamina memberikan berbagai pelatihan kepada masyarakat, mulai dari pembuatan pupuk organik dari limbah rumah tangga, pengenalan tanaman obat keluarga (TOGA), hingga pelatihan pengolahan dan pemasaran produk.

Tri Ningsih yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Kemuning turut mengikuti program tersebut. Bersama sekitar 30 perempuan lainnya, mereka belajar membuat pupuk organik dari limbah rumah tangga seperti sisa sayuran, air cucian beras, dan kompos.

Berbekal pengetahuan baru itu, Tri Ningsih kembali mengolah lahan di sekitar rumahnya. Kali ini ia menanam berbagai jenis tanaman, mulai dari sayur-mayur, buah-buahan, umbi-umbian hingga tanaman obat. Dengan penggunaan pupuk organik, tanaman-tanaman tersebut tumbuh lebih subur.

Kini, para anggota KWT Kemuning tidak lagi terlalu khawatir dengan naik turunnya harga bahan pangan. Sebagian kebutuhan dapur dapat dipenuhi dari hasil kebun di pekarangan rumah masing-masing, sehingga mereka dapat menghemat pengeluaran belanja hingga Rp200 ribu–Rp300 ribu per minggu.

Baca Juga:   Anggota DPR RI, ESP Ingatkan Media dalam Melansir Pemberitaan

Tidak hanya untuk konsumsi keluarga, hasil panen juga diolah menjadi produk bernilai tambah. Berbagai produk seperti wedang beras kencur, jamu seduh instan, wedang kunyit asam, serta bibit tanaman siap tanam dijual dengan harga Rp15 ribu hingga Rp20 ribu. Dari usaha tersebut, kelompok ini mampu meraih omzet hingga sekitar Rp1 juta per bulan.

“Tantangan kami jadikan penyemangat. Yang terpenting kami tetap kompak dan saling mendukung. Kami ingin masyarakat sekitar juga bisa mandiri dan menghasilkan sesuatu dari rumah,” ujar Tri Ningsih.

Kini, KWT Kemuning tidak hanya memanfaatkan ilmu yang diperoleh untuk kelompoknya sendiri. Mereka juga menjadi pusat belajar bagi 13 kelompok wanita tani lainnya di Kota Prabumulih. (*)

Example 120x600