Palembang, JITOE.com – Pengecekan konstruksi di kawasan Junction Palembang pada 7 November 2025 kembali menegaskan tantangan besar yang dihadapi dalam pembangunan simpang susun di ruas Tol Palembang–Indralaya tersebut. FPV Divisi Pembangunan Jalan Tol Hutama Karya, Pulung Satio Angono, menyampaikan bahwa titik ini disiapkan sebagai penghubung empat provinsi—Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, dan Jambi—sehingga memerlukan desain yang jauh lebih kompleks dibanding simpang susun lain di Sumatera.
Hutama Karya saat ini mengoperasikan empat ruas tol di wilayah Sumatera bagian selatan, yaitu Tol Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung sepanjang 189 kilometer, Tol Indralaya–Prabumulih sepanjang 64,5 kilometer, Tol Palembang–Indralaya sepanjang 22 kilometer, serta Tol Bengkulu–Taba Penanjung sepanjang 17,6 kilometer. Seluruh ruas ini nantinya akan terhubung penuh ke Junction Palembang begitu proses konstruksi dan pembebasan lahan selesai.
Pulung menjelaskan bahwa simpang susun tersebut baru melayani rute Palembang–Lampung karena akses menuju Bengkulu dan Jambi masih dalam tahap pembangunan. Sejumlah ruas juga menunggu penyelesaian administrasi lahan yang menjadi bagian krusial dalam percepatan proyek. Kondisi itu membuat alur pengerjaan harus disesuaikan dengan rencana jangka panjang jaringan Tol Trans Sumatera.
Menurut Pulung, desain dan pola konstruksi Junction Palembang harus dirancang lebih rinci karena simpang susun ini akan mengatur aliran kendaraan dari berbagai arah. Jika seluruh koneksi telah beroperasi, titik tersebut diproyeksikan menjadi simpul yang menghubungkan mobilitas antardaerah sekaligus jalur distribusi logistik di Sumatera bagian selatan.
Ditargetkan pembangunan koneksi penuh bisa dikejar pada 2026. Namun Pulung mengakui bahwa pembebasan lahan menjadi tantangan terbesar yang memengaruhi kecepatan penyelesaian ruas penghubung menuju Bengkulu dan Jambi. Penyelarasan rencana teknis terus dilakukan agar jalur baru dapat tersambung sesuai kebutuhan jaringan tol.
Pembangunan jalan tol di Sumatera terus dipercepat oleh Hutama Karya, dan Junction Palembang menjadi salah satu proyek yang mendapat perhatian karena level kerumitannya. Perusahaan menilai bahwa setelah seluruh jalur tersambung, perjalanan dari Lampung menuju Sumatera Selatan, Jambi, maupun Bengkulu akan terpangkas signifikan serta membuat pergerakan logistik menjadi lebih efisien.
Dengan skema konektivitas itu, Hutama Karya berharap simpang susun Palembang dapat menjadi titik strategis yang memperlancar arus kendaraan di empat provinsi, sekaligus mendukung pengembangan jaringan transportasi darat yang tengah dikejar melalui proyek Jalan Tol Trans Sumatera.(*)












