Baru saja kaki ini menginjak kembali tanah air. Orang-orang menyambut dengan senyum, keluarga memeluk dengan hangat, dan suasana rumah terasa begitu akrab seperti sediakala. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang tertinggal jauh di sana — di bawah langit Makkah dan di pelataran Masjid Nabawi, Madinah. Hati ini seolah belum pulang.
Ini bukan perjalanan pertama saya ke Tanah Suci. Tahun 2007 lalu, saya sudah menunaikan ibadah haji — sebuah perjalanan agung yang juga meninggalkan jejak mendalam dalam hidup. Namun entah mengapa, Perjalanan bersama Travel Momen Wisata Imani kali ini rasanya berbeda. Umroh ini seperti membuka kembali lembaran rindu yang pernah tertutup waktu. Rindu yang ternyata tak pernah benar-benar padam.
Setiap kali mata terpejam, yang terbayang adalah Ka’bah yang agung. Dinding hitam yang menenangkan, saksi bisu jutaan air mata dan doa-doa yang naik tanpa henti. Di hadapannya, aku pernah begitu kecil, begitu hina, namun juga begitu dekat dengan Sang Pemilik Segalanya. Di sana, air mata bukan tanda kesedihan, tapi tanda rindu yang tak ingin berakhir.

Di Madinah, setiap langkah terasa lembut. Udara seakan berbisik dengan ketenangan, seolah ingin menenangkan jiwa yang gelisah. Rasanya, tak ada tempat di bumi ini yang menandingi kehangatan kota Nabi SAW. Di sana, hati serasa damai — tak ada marah, tak ada iri, hanya cinta dan ketulusan.
Kini, semua itu tinggal kenangan. Ketika azan berkumandang di masjid dekat rumah, hati ini tiba-tiba tersentak. Ada getar yang berbeda, seakan terdengar gema azan dari Masjidil Haram yang menggema di dada. Saat sujud, bayangan lantai marmer putih di depan Ka’bah muncul lagi, membuat mata tak mampu menahan air yang jatuh perlahan.
Umroh ini bukan sekadar perjalanan ibadah. Ia adalah perjalanan hati — sebuah pulang yang sesungguhnya. Pulang kepada Allah, pulang kepada makna kehidupan, pulang kepada diri sendiri. Dan kini, ketika raga sudah kembali ke tanah air, jiwa ini masih tertinggal di Tanah Suci.
Ya Allah, Engkau tahu kerinduan ini. Engkau tahu betapa hati ini masih menatap Ka’bah dari kejauhan. Jika Engkau berkenan, izinkan suatu saat aku kembali lagi — bukan sekadar sebagai tamu, tapi sebagai hamba yang benar-benar Engkau rindu. (*)












