Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Refleksi

Menjaga Lisan, Menjaga Adab dalam Salat

×

Menjaga Lisan, Menjaga Adab dalam Salat

Sebarkan artikel ini

Penulis adalah Wartawan Utama/Pengurus Yayasan Satu Ihsan Palembang

Dalam suasana salat berjamaah, terkadang kita dihadapkan pada perbedaan pendengaran terhadap bacaan imam. Ada yang merasa mendengar huruf atau lafal tertentu terdengar kurang tepat, padahal setelah ditelusuri, bacaan imam sudah sesuai dengan kaidah tajwid. Hal ini bisa terjadi karena banyak faktor, terutama kualitas sound system, gema ruangan, hingga posisi kita dalam saf yang memengaruhi kejernihan suara.

Namun yang memprihatinkan adalah ketika perbedaan pendengaran itu menjadi bahan gurauan, dibicarakan berulang-ulang, atau bahkan diucapkan dalam salat. Hal ini tentu menyentuh batas adab dalam ibadah yang seharusnya dijaga dengan penuh ketundukan dan kehormatan.

Masalah Teknis yang Tak Perlu Diperbesar
Perlu dipahami bahwa suara yang terdengar kurang jelas tidak selalu berarti kesalahan bacaan. Bisa jadi disebabkan oleh:

  • Mikrofon yang terlalu jauh dari mulut imam
  • Speaker yang kualitasnya menurun
  • Akustik ruangan yang memantulkan suara
  • Posisi makmum yang tidak ideal terhadap arah speaker

Jika ada keraguan, sebaiknya dilakukan komunikasi yang baik, bukan asumsi sepihak. Karena menilai bacaan orang lain tanpa dasar kuat dapat menimbulkan prasangka yang tidak perlu.

Baca Juga:   Lampu Merah Penanda Arah Pulang

Adab Terhadap Imam dan Jamaah
Imam dalam salat adalah orang yang diberi amanah untuk memimpin ibadah kita bersama. Islam mengajarkan kita untuk menghormati pemimpin salat, tidak hanya dengan mendengarkan bacaannya, tetapi juga dengan menjaga lisan dan sikap.

Mengomentari bacaan imam tanpa landasan ilmu, apalagi dalam nada canda atau sindiran, dapat mengurangi kehormatan ibadah itu sendiri. Bahkan, jika dilakukan di dalam salat dengan ucapan yang tidak semestinya, bisa berdampak pada rusaknya kekhusyukan atau sah tidaknya salat seseorang.

Perlu direnungkan, bahwa belum tentu bacaan kita sebagai makmum lebih baik daripada bacaan sang imam. Justru dalam banyak kasus, para imam dipilih karena kemampuan dan kelayakannya — termasuk dalam kefasihan bacaan.

Terlebih lagi, dalam kasus-kasus tertentu, guru-guru pengajar Al-Qur’an dan para ustaz telah memberikan kesaksian dan penilaian bahwa bacaan imam tersebut sudah benar, sesuai tajwid. Maka, seyogianya kita sebagai makmum bersikap tawadhu’, rendah hati, dan tidak mudah berkomentar tanpa ilmu.

Baca Juga:   Sedih Melihat Mereka, dan Diri Sendiri

Nasihat untuk Kita Semua
Mari kita jaga masjid sebagai tempat suci yang penuh keberkahan. Jangan jadikan suasana ibadah sebagai tempat melahirkan komentar-komentar yang tidak bermanfaat. Jika ada kekeliruan, bimbing dengan lembut. Jika hanya salah dengar, mari kita saling memahami.

Karena bisa jadi, yang terdengar kurang tepat di telinga, sebenarnya sudah tepat di lidah sang imam — hanya saja suara tak tersampaikan sempurna karena faktor teknis yang manusiawi.

Ruang Penghambaan
Ibadah adalah ruang penghambaan, bukan ruang penilaian.
Salat adalah waktu mendekat kepada Allah, bukan waktu untuk membicarakan kekurangan orang lain.

Mari kita jaga lisan, jaga hati, dan jaga suasana jamaah dengan adab yang terpuji. Sebab, salat yang baik bukan hanya tentang bacaan yang benar, tetapi juga tentang akhlak jamaah yang dewasa dalam menyikapi perbedaan dan mampu menjaga kehormatan orang lain, terlebih lagi seorang imam.

Example 120x600