OKI, JITOE.com – Kasus dugaan keracunan siswa di Ogan Komering Ilir (OKI) kembali mengundang perhatian. Tim Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis (MBG) menemukan adanya jeda waktu yang cukup lama antara makanan dimasak dan dikonsumsi, sehingga diduga kuat menjadi penyebab gangguan pencernaan pada puluhan anak.
Ketua Satgas MBG OKI, Lubis, menuturkan makanan yang semestinya dikonsumsi saat jam masuk sekolah pukul 11.00 WIB baru disantap pada sore hari. Menurutnya, penyimpanan yang terlalu lama membuat kualitas makanan menurun drastis hingga menimbulkan gejala mual, pusing, muntah, dan sakit perut.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Sumatera Selatan melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dedy Irawan, mengingatkan agar satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) lebih disiplin memperhatikan waktu penyajian makanan. Ia menegaskan, makanan yang sudah dimasak sebaiknya tidak dibiarkan lebih dari empat jam sebelum dikonsumsi.
“Perlu diperhatikan adalah jeda waktu dari makanan dimasak, siap disajikan, sampai makanan itu dikonsumsi jangan sampai lebih dari 4 jam,” kata Dedy, Kamis (04/09/2025).
Ia menambahkan, hasil penelusuran dari tiga kasus serupa di Sumsel menunjukkan pola yang sama. Menu makanan sudah dalam kondisi basi saat dikonsumsi siswa. Hal itu, katanya, akibat melewati batas waktu aman yang seharusnya dijaga di suhu ruangan.
Menurut Dedy, pengaturan waktu penyajian sangat penting untuk memastikan makanan tetap layak dikonsumsi. Dengan demikian, kualitas program MBG bisa tetap terjaga dan risiko keracunan bisa dicegah sejak awal.
Dinkes Sumsel sendiri telah mengirimkan tim khusus ke OKI untuk melakukan koordinasi, memantau puskesmas tempat siswa dirawat, serta meninjau SPPG di wilayah tersebut. Hingga kini, laporan resmi menyebut lebih dari 80 siswa sempat mendapat perawatan akibat insiden ini.(*)












