Palembang, JITOE.com – Kota Palembang mengalami lonjakan kasus kebakaran dalam lima bulan pertama tahun 2025. Data dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) mencatat sekitar 50 kejadian telah terjadi sejak Januari hingga Mei, dengan sebagian besar dipicu oleh korsleting listrik dan kelalaian manusia.
Menurut Kepala Damkarmat Kota Palembang, Kemas Haikal, mayoritas kebakaran terjadi akibat kesalahan penanganan instalasi listrik serta faktor human error. Ia menyebutkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya kelistrikan masih rendah, sehingga risiko kebakaran terus berulang.
“Ini sebenarnya kebanyakan disebabkan oleh kelalalian, dalam penanganan kelistrikan, dan human error,” kata Haikal.
Dikatakannya, hampir semua insiden tersebut sebenarnya bisa dicegah jika masyarakat lebih waspada terhadap potensi kebakaran, khususnya yang berkaitan dengan sistem kelistrikan di rumah dan tempat usaha.
Dalam upaya menekan dampak kebakaran, Damkarmat berkomitmen menjaga waktu respon maksimal 15 menit setelah menerima laporan. Namun, pencapaian ini masih menghadapi hambatan di lapangan, salah satunya karena call center layanan darurat belum terpusat dan menyulitkan koordinasi cepat.
Untuk itu, pihak Damkarmat tengah menyusun skema agar layanan call center bisa digabung dalam satu sistem terpadu. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat respons saat terjadi kebakaran.
Selain masalah koordinasi, keterbatasan jumlah pos pemadam juga jadi perhatian. Saat ini, Damkarmat hanya memiliki delapan pos yang aktif melayani seluruh wilayah Kota Palembang. Hal ini menyebabkan beberapa area tidak terjangkau secara optimal atau masuk dalam kategori blank spot.
“Melihat topografi kota Palembang, dan peraturan Menteri PUPR, masih banyak blank spot area yang tidak tercover pos yang ada. Oleh karena itu kedepan kita mencari lokasi untuk memenuhi 4 sampai 5 lokasi pos, dalam mengcover blank spot,” lanjutnya.
Haikal berharap penambahan pos dan pembenahan sistem layanan darurat bisa memperkuat kemampuan tim pemadam dalam merespons laporan kebakaran dengan lebih cepat dan merata. Upaya ini sekaligus menjadi langkah preventif untuk menekan angka kejadian serupa ke depannya.(*)












