Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Refleksi

Sombongnya Orang Ini

×

Sombongnya Orang Ini

Sebarkan artikel ini

Ketika Hati Enggan Berdoa dan Bibir Enggan Bershalawat

Di tengah riuhnya dunia yang terus berlari, ada hal-hal sunyi yang diam-diam menjadi penanda arah hidup kita. Salah satunya adalah doa—ucapan tulus dari lubuk jiwa yang memohon kepada Sang Pencipta. Yang lainnya adalah shalawat, untaian salam dan hormat kepada Nabi Muhammad ﷺ, manusia mulia yang menjadi cahaya petunjuk umat.

Namun sayangnya, tidak semua hati tergerak untuk berdoa. Tidak semua lisan bergetar ketika nama Nabi disebut. Padahal, keduanya bukan sekadar ritual, tapi cermin sejati dari kedalaman iman dan kerendahan hati.

Doa: Cermin Ketundukan, Bukan Sekadar Permintaan

Allah SWT tidak hanya memerintahkan kita untuk salat dan puasa, tapi juga untuk berdoa. Bukan karena Dia butuh, melainkan karena kita yang membutuhkan-Nya.

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.”
(QS. Ghafir: 60)

Dalam ayat ini, berdoa disebut sebagai ibadah, dan yang tidak mau berdoa disebut sebagai orang sombong. Bayangkan, seseorang yang merasa tidak perlu memohon kepada Tuhan—bukankah itu bentuk arogansi spiritual?

Imam Ibnul Qayyim bahkan menyebut bahwa enggan berdoa adalah tanda hati yang mati. Tidak ada pengakuan kebutuhan, tidak ada rasa butuh, seolah hidup bisa dijalani tanpa campur tangan Tuhan.

Shalawat: Tanda Cinta atau Bukti Bakhil?

Ada pula mereka yang ketika mendengar nama “Muhammad” ﷺ disebut, tidak tersentuh hatinya, apalagi lisannya. Padahal Nabi bersabda: “Orang yang paling bakhil adalah orang yang ketika aku disebut, dia tidak bershalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi)

Dan lebih keras lagi sabda beliau: “Celakalah seseorang yang ketika aku disebut di sisinya, ia tidak bershalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi)

Baca Juga:   Tahun-Tahun Air Mata: Ketika Nabi Muhammad SAW Menghadapi Kesedihan Terbesar dalam Hidupnya

Betapa sederhana bentuknya, namun dalam maknanya. Satu shalawat bisa mengundang rahmat dari Allah sepuluh kali lipat, sebagaimana sabda Nabi: “Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Tapi ketika hati keras, nama Nabi yang agung pun hanya jadi nama biasa. Tak ada getar, tak ada gerak. Seolah Nabi bukan siapa-siapa dalam hidupnya.

Mengapa Bisa Terjadi?

Mengapa ada orang yang tidak suka berdoa? Mengapa banyak yang enggan bershalawat?

Bisa jadi karena kesombongan, bisa juga karena kelalaian yang kronis. Mungkin juga karena keimanan yang mulai menipis, atau rutinitas hidup yang menggerus kesadaran rohani.

Sebagian orang merasa cukup dengan usahanya, lupa bahwa segala keberhasilan sejatinya adalah anugerah. Sebagian merasa Nabi tidak lagi relevan, lupa bahwa segala petunjuk hidup bersumber dari beliau.

Mari Kembali kepada Keheningan Iman

Dunia ini terlalu riuh untuk didengarkan semuanya. Tapi dalam doa dan shalawat, kita kembali ke ruang batin yang sunyi—tempat segala harap dan cinta dipanjatkan.

Jangan tunggu hidup hancur untuk mulai berdoa.
Jangan tunggu ajal dekat untuk mengucap shalawat.

Mulailah hari ini, sekarang. Cukup ucap:
“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku memohon.”
“Allahumma shalli ‘ala Muhammad.”

Karena di sanalah letak kekuatan kita sebagai hamba. Bukan pada gelar atau harta, tapi pada kerendahan hati di hadapan Allah, dan cinta kepada Rasulullah ﷺ

Shalawat: Tanda Cinta atau Bukti Bakhil?
Ada pula mereka yang ketika mendengar nama “Muhammad” ﷺ disebut, tidak tersentuh hatinya, apalagi lisannya. Padahal Nabi bersabda: “Orang yang paling bakhil adalah orang yang ketika aku disebut, dia tidak bershalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi)

Baca Juga:   Korupsi: Apa Enaknya?

Dan lebih keras lagi sabda beliau: “Celakalah seseorang yang ketika aku disebut di sisinya, ia tidak bershalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi)

Betapa sederhana bentuknya, namun dalam maknanya. Satu shalawat bisa mengundang rahmat dari Allah sepuluh kali lipat, sebagaimana sabda Nabi: “Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Tapi ketika hati keras, nama Nabi yang agung pun hanya jadi nama biasa. Tak ada getar, tak ada gerak. Seolah Nabi bukan siapa-siapa dalam hidupnya.

Mengapa Bisa Terjadi?
Mengapa ada orang yang tidak suka berdoa? Mengapa banyak yang enggan bershalawat?

Bisa jadi karena kesombongan, bisa juga karena kelalaian yang kronis. Mungkin juga karena keimanan yang mulai menipis, atau rutinitas hidup yang menggerus kesadaran rohani.

Sebagian orang merasa cukup dengan usahanya, lupa bahwa segala keberhasilan sejatinya adalah anugerah. Sebagian merasa Nabi tidak lagi relevan, lupa bahwa segala petunjuk hidup bersumber dari beliau.

Mari Kembali kepada Keheningan Iman
Dunia ini terlalu riuh untuk didengarkan semuanya. Tapi dalam doa dan shalawat, kita kembali ke ruang batin yang sunyi—tempat segala harap dan cinta dipanjatkan.

Jangan tunggu hidup hancur untuk mulai berdoa.
Jangan tunggu ajal dekat untuk mengucap shalawat.

Mulailah hari ini, sekarang. Cukup ucap:
“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku memohon.”
“Allahumma shalli ‘ala Muhammad.”

Karena di sanalah letak kekuatan kita sebagai hamba. Bukan pada gelar atau harta, tapi pada kerendahan hati di hadapan Allah, dan cinta kepada Rasulullah ﷺ (*)

Example 120x600