Malam itu, Banten bukan sekadar menjadi tuan rumah perhelatan besar insan pers nasional. Ia menghadirkan suasana yang hangat, bersahaja, dan terasa akrab dalam gala dinner menjelang puncak peringatan Hari Pers Nasional ke-80. Di tengah ratusan wartawan yang datang dari berbagai provinsi dan kabupaten di Indonesia, perhatian saya tertuju pada sosok Andra Soni, Gubernur Banten saat ini.
Sambutan yang disampaikannya malam itu tidak panjang. Tidak pula dibalut diksi yang berusaha meninggikan jarak. Kalimat-kalimatnya sederhana, mengalir, dan terasa jujur. Namun justru di sanalah letak kekuatannya. Baris demi baris terasa menyentuh sisi yang dalam, seolah mengajak hadirin memahami cara pandangnya tentang kepemimpinan, tentang kebersamaan, dan tentang peran pers dalam menjaga denyut demokrasi.
Saya menyimak sambutan itu dengan perlahan. Tidak ada kesan menggurui, tidak pula nada formal yang kaku. Yang terasa justru ketulusan. Dari tutur yang tenang itu, tampak latar kepemimpinan yang membumi—kepemimpinan yang tidak gemar menonjolkan diri, tetapi memberi ruang bagi orang lain.
Malam itu, Andra Soni seperti memperkenalkan dirinya tanpa perlu menyebutkan daftar prestasi atau jabatan. Ia cukup berbicara sebagai tuan rumah yang tahu bagaimana menghargai tamunya.

Kesan tersebut semakin menguat selepas acara gala dinner resmi usai. Ketika sebagian undangan mulai beranjak dan ruangan tak lagi sesesak sebelumnya, Andra Soni tidak langsung meninggalkan lokasi. Ia tetap berada di tempat, menyatu dengan para wartawan. Senyum tak lepas dari wajahnya. Canda ringan mengalir. Permintaan foto dilayani satu per satu. Tidak tampak raut tergesa, apalagi keinginan untuk segera mengakhiri perjumpaan.
Pengalaman malam itu terasa memberi pembanding yang jujur. Dalam berbagai perhelatan resmi, tidak jarang kita menjumpai profil pemimpin daerah yang memilih menjaga jarak dengan wartawan. Bukan tanpa alasan, mungkin demi ritme kerja atau tuntutan protokoler. Namun dalam praktiknya, jarak itu kerap terasa semakin lebar. Ruang untuk menyapa menjadi terbatas, apalagi untuk berbincang santai atau sekadar bertukar senyum. Hubungan pun berhenti pada formalitas—dingin, singkat, dan cepat berlalu.
Di malam itu, suasananya berbeda. Ratusan wartawan benar-benar diberi tempat. Bukan sekadar kursi dan jamuan makan, tetapi juga perhatian dan waktu. Sikap itu membuat hubungan antara pemimpin daerah dan insan pers terasa setara, tidak dibatasi sekat-sekat yang berlebihan. Ada rasa dihargai, ada perasaan diterima sebagai mitra, bukan sekadar undangan seremonial.
Di ruang yang mulai lengang namun justru terasa lebih intim itulah, potret kepemimpinan Andra Soni terlihat dengan jelas. Kepemimpinan yang hadir, yang tidak menjaga jarak, dan yang memahami bahwa pers bukan hanya bagian dari liputan, melainkan elemen penting dalam perjalanan sebuah daerah.
Gala dinner itu pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar rangkaian acara menjelang puncak HPN. Ia menjelma menjadi sebuah malam yang menghangatkan Banten—malam ketika pers merasa dihargai, dan seorang pemimpin menunjukkan bahwa kewibawaan tidak selalu ditunjukkan lewat jarak dan formalitas, tetapi melalui kesediaan untuk tinggal lebih lama, mendengar lebih dekat, dan menyapa dengan tulus.












