Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Iklan Idul Fitri Jitoe.com
BusinessTeknologi

Nasib TikTok di Amerika Serikat di Ujung Tanduk

×

Nasib TikTok di Amerika Serikat di Ujung Tanduk

Sebarkan artikel ini
Nasib TikTok di Amerika Serikat di Ujung Tanduk
Ilustrasi: petapixel.com

JITOE.com – Larangan terhadap TikTok di Amerika Serikat akhirnya resmi berlaku. Mahkamah Agung AS memutuskan untuk tetap melarang aplikasi ini beroperasi karena alasan keamanan nasional. TikTok hanya dapat bertahan di AS jika ByteDance, perusahaan induknya yang berbasis di China, menjualnya ke pihak lain. Jika tidak, TikTok harus berhenti beroperasi mulai Minggu (19/1/2025).

Keputusan ini mengecewakan 170 juta pengguna aktif TikTok di AS, yang kini menghadapi ketidakpastian. Beberapa pihak telah menunjukkan minat untuk membeli TikTok, termasuk tokoh-tokoh ternama seperti Elon Musk dan mantan Menteri Keuangan Steven Mnuchin. Namun, ByteDance tetap bersikeras mempertahankan kepemilikannya, terutama algoritma TikTok yang dianggap sebagai “rahasia dagang” paling berharga. Pemerintah China pun diyakini tidak akan menyetujui penjualan tersebut, terutama jika algoritma turut disertakan.

Pada Jumat (17/1/2025) waktu setempat, Mahkamah Agung dengan suara bulat menegakkan hukum federal yang melarang TikTok, dengan alasan data pengguna AS dapat diakses oleh pemerintah China. Keputusan ini mengundang reaksi keras, baik dari pengguna maupun kelompok hak digital yang menganggap pelarangan ini merugikan kebebasan berekspresi.

Presiden AS terpilih, Donald Trump, yang akan dilantik pada Senin (20/1/2025), menyatakan akan mempertimbangkan langkah untuk menyelamatkan TikTok. Melalui unggahannya di Truth Social, Trump mengisyaratkan bahwa keputusan terkait TikTok akan segera diumumkan. Di sisi lain, Presiden AS saat ini, Joe Biden, memilih untuk tidak mengambil tindakan lebih lanjut dan menyerahkan masalah ini kepada penerusnya.

Baca Juga:   Google Merilis AI Generasi Baru untuk Gmail dan Cloud Software

Dalam situasi ini, CEO TikTok, Shou Zi Chew, yang dijadwalkan menghadiri pelantikan Trump di Washington, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan Trump terhadap nasib aplikasi tersebut. Kabarnya, Trump telah berdiskusi dengan Presiden China Xi Jinping mengenai berbagai isu, termasuk TikTok.

Sejumlah pakar hukum percaya bahwa Trump dapat menggunakan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional untuk mengeluarkan perintah eksekutif yang memungkinkan TikTok tetap beroperasi. Langkah ini disebut-sebut dapat menjaga keamanan nasional, sekaligus mencegah pengguna AS beralih ke aplikasi lain milik China, seperti Rednote.

Namun, larangan ini tetap memberikan dampak besar bagi TikTok dan para penggunanya. Setelah tanggal 19 Januari, aplikasi TikTok tidak akan tersedia di toko aplikasi seperti Apple App Store dan Google Play. Pengguna yang sudah memiliki aplikasi masih dapat menggunakannya, tetapi mereka tidak akan bisa mendapatkan pembaruan atau dukungan teknis. Seiring waktu, TikTok tanpa pembaruan perangkat lunak dan keamanan akan menjadi semakin sulit diakses.

Baca Juga:   Car Free Night Kembali Dibuka Di Sekanak Lambidaro Setiap Sabtu dan Minggu Malam

Penutupan TikTok juga memengaruhi ekosistem kreator konten di AS. Banyak kreator mengandalkan TikTok sebagai sumber pendapatan utama mereka. Lourd Asprec, seorang pengguna dengan 16,3 juta pengikut, mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap keputusan ini. “China boleh mengambil semua data saya, asalkan TikTok tidak mati,” ujarnya.

Sementara itu, alternatif seperti Rednote mulai mendapatkan perhatian dari pengguna AS. Aplikasi ini, yang dikenal sebagai “Xiaohongshu” di China, menjadi salah satu aplikasi yang paling banyak diunduh di AS menjelang penutupan TikTok. Namun, pengguna baru menghadapi tantangan, seperti antarmuka yang sebagian besar dalam bahasa Mandarin.

Keputusan untuk melarang TikTok mencerminkan ketegangan yang terus meningkat antara AS dan China, terutama dalam perdagangan dan teknologi. Para pengamat melihat langkah ini sebagai bagian dari strategi AS untuk melindungi data warganya, meskipun banyak pihak yang merasa hal ini lebih bersifat politis daripada praktis.

Bagaimana masa depan TikTok di AS? Apakah aplikasi ini benar-benar akan hilang, atau akankah muncul solusi yang memungkinkan TikTok bertahan di pasar terbesar kedua setelah China? Semua kini bergantung pada keputusan pemerintah AS dalam beberapa hari mendatang.(*)

 

SUMBER: REUTERS/AFP/AP

Example 120x600