Bandar Lampung, JITOE.com — Pemerintah Provinsi Lampung bersiap menggelar Lampung Fest 2025, sebuah pesta budaya dan ekonomi kreatif tahunan yang digadang-gadang menjadi ikon baru kebangkitan pariwisata daerah. Digelar selama dua pekan penuh, mulai 11 hingga 25 November 2025, ajang ini bukan sekadar perayaan seni dan kuliner, melainkan strategi besar untuk mendorong Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan industri lokal.
Namun di tengah geliat persiapan yang terus berjalan, muncul catatan penting: partisipasi organisasi perangkat daerah (OPD) dinilai belum maksimal. Hingga awal Oktober, tercatat baru 9 dari 46 OPD yang secara resmi menyatakan kesediaan ikut serta menampilkan inovasi dan program unggulan masing-masing.
Sembilan OPD tersebut antara lain Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, BPKAD, BPSDM, Dinas Perumahan dan Cipta Karya, RSUD Abdul Moeloek, Dinas Pendidikan, Dinas Perkebunan, Dinas Kesehatan, dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Sementara beberapa dinas besar seperti Dinas Kehutanan serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan masih dalam tahap konfirmasi.
Ajang Kolaborasi dan Ekspose Kinerja
Menurut Ketua Panitia Pelaksana, Lampung Fest 2025 dirancang sebagai panggung kolaborasi lintas sektor, di mana setiap OPD diharapkan tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga motor penggerak dalam memperkenalkan program unggulan daerah.
“Kami ingin festival ini menjadi ruang terbuka bagi semua instansi untuk menampilkan capaian kinerja, inovasi pelayanan publik, dan kontribusinya terhadap ekonomi kreatif Lampung,” ujar Ketua Panitia, Rizky Handoko, saat ditemui di kantor Dinas Pariwisata, Senin (20/10/2025).
Rizky menegaskan, panitia sudah menyiapkan skema yang sangat memudahkan. Setiap OPD mendapatkan fasilitas area pameran 3×3 meter secara gratis, hanya diwajibkan membayar biaya listrik ringan untuk 14 hari penyelenggaraan.
“Tahun ini kami ingin mendorong semangat gotong royong dan efisiensi. Tak ada lagi alasan biaya mahal. Justru ini momentum bagi OPD untuk memperlihatkan hasil kerja dan inovasi mereka langsung kepada publik,” tambahnya.
Dari Festival Hiburan ke Festival Produktif
Lampung Fest yang selama ini dikenal sebagai festival hiburan rakyat, kini mulai diarahkan menjadi event produktif yang mendatangkan dampak ekonomi nyata.
Berbagai sektor akan ditampilkan secara terpadu: dari pameran UMKM, bazar kuliner lokal, parade budaya, fashion etnik, hingga talkshow digital ekonomi kreatif. Selain itu, panggung musik akan menghadirkan artis daerah dan nasional, sementara area pameran akan menampilkan hasil inovasi dari OPD dan mitra swasta.
Gubernur Lampung menekankan bahwa Lampung Fest harus menjadi simbol sinergi lintas sektor, bukan sekadar seremonial tahunan.
“Kita ingin festival ini menjadi mesin pertumbuhan baru, tempat ekonomi rakyat dan pemerintah bertemu. Ke depan, Lampung Fest diharapkan bisa mandiri secara finansial dan menjadi agenda kebanggaan daerah,” tegas Gubernur dalam arahannya kepada panitia beberapa waktu lalu.
Harapan Baru di Tengah Tantangan
Meski antusiasme publik terus tumbuh, tantangan masih cukup besar. Beberapa OPD disebut masih terkendala koordinasi dan alokasi anggaran. Namun, panitia optimistis bahwa dengan komunikasi yang intens, jumlah peserta akan meningkat signifikan sebelum pembukaan resmi pada November mendatang.
Panitia juga tengah menyiapkan Lampung Fest Award 2025, sebuah penghargaan khusus bagi OPD, kabupaten/kota, dan pelaku UMKM yang menunjukkan partisipasi dan inovasi terbaik selama festival berlangsung.
Dengan tema besar “Bangkit Bersama Lampung”, Lampung Fest 2025 diharapkan menjadi ajang kebangkitan kreativitas daerah, memperkuat identitas lokal, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Ini bukan sekadar pesta. Ini pernyataan bahwa Lampung mampu berdiri di atas kakinya sendiri — dengan budaya, kreativitas, dan kolaborasi,” tutup Rizky. (*)












