JITOE.com – Isu mengejutkan tengah mengguncang publik. Merek air minum dalam kemasan (AMDK) ternama, Aqua, dituding menggunakan air dari sumur bor untuk produksinya—bukan dari mata air pegunungan sebagaimana yang diklaim dalam iklan. Temuan itu membuat Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) turun tangan dan berencana memanggil manajemen dan direktur utama PT Tirta Investama untuk meminta klarifikasi resmi.
Ketua BPKN RI, Mufti Mubarok, menegaskan lembaganya telah menerima sejumlah laporan masyarakat serta pemberitaan luas mengenai dugaan penggunaan sumber air tanah dalam proses produksi Aqua. Menurutnya, klarifikasi dari perusahaan menjadi penting untuk memastikan konsumen mendapatkan informasi yang benar, jujur, dan transparan sesuai Undang-Undang Perlindungan Konsumen.
“Jika klaim di iklan berbeda dengan fakta di lapangan, maka itu termasuk pelanggaran prinsip kejujuran dalam beriklan. Konsumen berhak mengetahui asal bahan baku produk yang mereka konsumsi,” ujar Mufti Mubarok.
Ia memastikan BPKN akan menindaklanjuti kasus ini dengan transparan dan sesuai prosedur hukum yang berlaku.
Selain memanggil manajemen Aqua, BPKN juga akan berkoordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Kementerian Perindustrian untuk menelusuri izin sumber air yang digunakan. Langkah ini dilakukan guna memastikan seluruh proses produksi AMDK berjalan sesuai standar mutu dan tidak melanggar aturan pengambilan air tanah.
Viral Video Sidak Dedi Mulyadi Bongkar Fakta Mengejutkan
Isu penggunaan air sumur bor mencuat setelah video inspeksi mendadak (sidak) oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, viral di media sosial. Dalam video yang direkam pada Senin (20/10/2025), Dedi tampak meninjau langsung salah satu pabrik Aqua di Kabupaten Subang. Hasilnya, ditemukan fakta bahwa sumber air di lokasi tersebut berasal dari sumur bor sedalam sekitar 100 hingga 130 meter.
Dalam sidak itu, pihak perusahaan menjelaskan bahwa air untuk produksi diambil melalui pipa bertekanan tinggi dari lapisan tanah dalam, bukan dari aliran air pegunungan. Kapasitas pengambilan air disebut mencapai sekitar 2,8 juta liter setiap harinya.
Temuan tersebut sontak menuai reaksi keras dari publik. Kekhawatiran muncul terkait dampak pengambilan air tanah dalam jumlah besar terhadap lingkungan sekitar. Sejumlah pihak menilai hal itu berpotensi menyebabkan penurunan muka tanah, mengurangi pasokan air bersih warga, hingga menimbulkan risiko perubahan struktur geologi.
Dedi Mulyadi menegaskan, jika perusahaan terus beroperasi tanpa memperhatikan dampak lingkungan dan izin pengambilan air, maka perlu dilakukan evaluasi ulang terhadap izin produksinya. Menurutnya, eksploitasi air tanah tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat di sekitar lokasi.
Aqua Klaim Gunakan Air dari Akuifer Gunung, Bukan Sumur Bor
Menjawab berbagai tudingan yang beredar, PT Tirta Investama akhirnya memberikan klarifikasi melalui situs resmi sehataqua.co.id. Dalam pernyataan tertulisnya, pihak Aqua membantah isu bahwa mereka menggunakan air dari sumur bor. Perusahaan menjelaskan bahwa sumber air yang digunakan berasal dari akuifer dalam, yang merupakan bagian dari sistem hidrogeologi pegunungan.
Air tersebut, kata Aqua, telah melalui proses seleksi ketat dan kajian ilmiah yang melibatkan para ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Padjadjaran (Unpad). Aqua juga menyebut sebagian titik sumber air mereka bersifat self-flowing atau mengalir secara alami tanpa perlu dipompa.
Meski klarifikasi telah disampaikan, kepercayaan sebagian warganet tampaknya mulai goyah. Banyak yang meminta agar dilakukan audit terbuka dan pemeriksaan independen untuk memastikan kebenaran asal sumber air. Warganet juga menyoroti pentingnya transparansi perusahaan besar seperti Aqua dalam menjaga kepercayaan konsumen yang telah lama loyal terhadap produknya.(*)












