Palembang, JITOE.com – Jumlah korban dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus melonjak. Hingga September 2025, laporan resmi pemerintah menyebut lebih dari 4.700 siswa terdampak. Namun, dua lembaga pemantau independen justru menemukan angka yang lebih tinggi, bahkan mencapai lebih dari 6.000 kasus.
Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat total 4.711 korban berdasarkan laporan kejadian luar biasa (KLB) dari dinas kesehatan di daerah hingga 22 September 2025. Data inilah yang dijadikan rujukan pemerintah dalam menilai perkembangan program.
Di sisi lain, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mengeluarkan data berbeda. Hingga 19 September 2025, CISDI melaporkan 5.626 korban, dengan metode pengumpulan data dari pemberitaan media dan laporan lapangan.
Angka paling tinggi muncul dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI). Lembaga ini menghimpun data dari berbagai sumber, termasuk dinas kesehatan dan catatan daerah, lalu merilis jumlah korban mencapai 6.452 jiwa per 21 September 2025.
Perbedaan data ini dipicu oleh cara penghitungan yang tidak sama. Pemerintah melalui BGN hanya menghitung korban yang sudah dikategorikan KLB dan dilaporkan resmi, sementara CISDI serta JPPI juga memasukkan dugaan kasus yang belum semuanya diverifikasi lewat uji laboratorium.
Dari sisi wilayah, Jawa Barat tercatat sebagai daerah dengan jumlah kasus tertinggi. Bandung Barat menjadi sorotan karena di Cipongkor saja, 369 siswa dilaporkan sakit dalam satu kejadian pada 24 September 2025. Kondisi itu membuat Bupati Bandung Barat menetapkan status KLB serta menghentikan sementara sejumlah dapur penyedia MBG.
Selain Jawa Barat, lonjakan kasus juga tercatat di Banten dan Jawa Tengah. Kedua provinsi ini melaporkan ratusan hingga ribuan korban dengan status KLB yang telah dikonfirmasi dinas kesehatan setempat.
Tidak hanya di Pulau Jawa, kasus serupa juga muncul di Kalimantan Timur, Jawa Timur, dan Sumatera Selatan dengan jumlah korban puluhan hingga ratusan orang.
Mayoritas korban keracunan adalah siswa sekolah dasar, kelompok utama penerima manfaat program MBG. Lonjakan kasus ini menimbulkan pertanyaan publik mengenai efektivitas pengawasan dan jaminan keamanan dari program nasional yang sejak awal ditujukan untuk meningkatkan gizi pelajar. (*)












