Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Iklan Idul Fitri Jitoe.com
Cerita FiksiCerpen

Di Antara Tatap yang Tak Pernah Selesai

×

Di Antara Tatap yang Tak Pernah Selesai

Sebarkan artikel ini

oleh : Safa

Namanya Yati.
Dan laki-laki itu bernama Uza.

Mereka tidak lagi hidup di masa yang sama, meski pernah tumbuh dalam satu waktu yang serupa. Puluhan tahun berlalu sejak perpisahan itu, hingga usia mengajarkan bahwa tidak semua kisah harus selesai dengan kata-kata.

Pertemuan pertama setelah sekian lama terjadi di sebuah pesta pernikahan. Riuh tawa, tabuhan rebana, dan doa-doa yang mengudara. Yati hadir sebagai tamu, Uza sebagai kerabat jauh mempelai. Di antara kerumunan, mata mereka saling menemukan—sebentar saja—cukup untuk mengenali wajah yang pernah begitu akrab. Tidak ada senyum, tidak pula anggukan. Hanya tatap yang cepat dialihkan, seolah keduanya sepakat bahwa masa lalu tak perlu dipanggil pulang.

Baca Juga:   Cerita Nyambung-Nyambung Musholla di Kampungku (1)

Pertemuan berikutnya justru terjadi di suasana yang berlawanan. Di rumah duka, saat keluarga berkumpul melepas kepergian seorang yang dicintai. Uza berdiri di sudut ruangan, mengenakan baju gelap, wajahnya lebih tenang dari yang Yati ingat. Yati duduk tak jauh, menunduk, memeluk tas kecil di pangkuannya. Kali ini tatap mereka lebih lama—hening, berat, dan penuh hal yang tak terucap. Seakan ada kalimat yang ingin keluar, namun keduanya memilih membiarkannya tetap menjadi doa dalam hati.

Sejak itu, mereka beberapa kali kembali bertemu—di acara pernikahan lainnya, di pemakaman keluarga yang berbeda. Selalu sama: saling pandang, lalu saling menjauh. Tidak ada usaha untuk menyapa, tidak pula keberanian untuk menghindar sepenuhnya. Seolah takdir hanya mengizinkan mereka berada di garis yang sejajar, tak pernah berpotongan.

Baca Juga:   Cerita Nyambung-Nyambung Musholla di Kampungku (1)

Yati memahami satu hal: yang hadir bukan lagi rasa ingin memiliki, melainkan kenangan yang telah menua bersamanya. Sementara Uza tahu, diam adalah bentuk paling jujur dari penerimaan—bahwa tidak semua yang pernah indah harus diulang.

Di setiap pertemuan itu, mereka belajar satu hal yang sama:
bahwa cinta tak selalu harus dimiliki,

dan kenangan tak selalu harus diucapkan.

Kadang, cukup disimpan sebagai bagian dari perjalanan hidup—agar hati tetap utuh, dan masa kini tetap tenang

Example 120x600