Jakarta, JITOE.com – Ledakan terjadi di area masjid SMAN 72 Jakarta, Kompleks Kodamar, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (07/11/2025) sekitar pukul 12.30 WIB. Peristiwa ini menimbulkan kepanikan di lingkungan sekolah dan mengakibatkan puluhan korban luka-luka.
Berikut sejumlah fakta dari peristiwa ledakan tersebut:
1. Sekitar 50 Orang Terluka, Dua Dioperasi
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan, jumlah korban luka akibat ledakan mencapai sekitar 50 orang. Dari jumlah tersebut, dua korban harus menjalani operasi di rumah sakit.
Sebagian besar korban telah mendapat perawatan di posko darurat yang disiapkan Polda Metro Jaya dan sudah diperbolehkan pulang.
“Ada dua orang yang saat ini sedang dilakukan operasi,” kata Listyo.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Lodewijk Freidrich Paulus, juga memastikan tidak ada korban meninggal dunia.
2. Ledakan Terjadi Saat Salat Jumat
Menurut keterangan sejumlah siswa, ledakan di SMAN 72 Jakarta terjadi dua kali saat pelaksanaan salat Jumat, tepatnya ketika khotbah tengah berlangsung.
Ledakan pertama terdengar dari arah dalam masjid sekolah, sementara dentuman kedua muncul tak lama kemudian dari bagian belakang sekolah.
Selisih waktu antara dua ledakan itu disebut hanya beberapa detik, membuat para jamaah dan siswa yang berada di sekitar lokasi panik dan berhamburan keluar dari area sekolah.
3. Terduga Pelaku Berusia 17 Tahun
Polri mengonfirmasi bahwa pelaku peledakan merupakan pelajar berusia 17 tahun.
“Informasi sementara masih dari lingkungan sekolah tersebut (pelajar SMAN 72 Jakarta),” jelas Listyo.
Ia menambahkan, pelaku saat ini dalam penanganan kepolisian, sementara tim penyidik masih menelusuri identitas, latar belakang, serta lingkungan tempat tinggal pelaku.
Untuk saat ini, pelaku juga dilaporkan menjalani operasi akibat luka yang dialaminya saat peristiwa terjadi. “Salah satu dari dua orang yang menjalani operasi adalah pelaku,” ujar Kapolri.
4. Pelaku Sempat Tanyakan Acara Bulan Bahasa
Seorang siswi SMAN 72 Jakarta, Kinan (bukan nama sebenarnya), mengaku sempat diajak berbicara oleh pelaku beberapa hari sebelum ledakan. Ia menuturkan, pelaku sempat dua kali menanyakan soal jadwal puncak acara Bulan Bahasa di sekolah.
“Aku ditanyain, pernah waktu habis dari toilet sekolah, tiba-tiba saja dia menanyakan, kapan puncak bulbas (bulan bahasa),” ujar Kinan di RS Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat, (07/11/2025).
Menurut Kinan, ia juga kembali ditanya hal yang sama karena kebetulan dirinya menjadi MC di acara tersebut.
“Saya mikirnya itu dia kayak ingin merencanakan seperti yang terjadi hari ini di 10 November 2025 nanti. Puncak bulan bahasa akan diselenggarakan 10 November,” kata dia.
5. Presiden Prabowo Minta Penanganan Korban Jadi Prioritas
Presiden Prabowo Subianto menanggapi insiden ini dengan meminta agar penanganan korban menjadi fokus utama pemerintah. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, Presiden juga mengingatkan masyarakat agar lebih peka terhadap situasi di lingkungan sekitar.
“Jika ada hal-hal yang dirasa mencurigakan, atau ada hal-hal yang mungkin berpotensi menjadi hal-hal yang tidak baik, kita harus semakin peduli baik di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah,” kata Prasetyo di Istana Merdeka.
6. Beberapa Korban Alami Trauma
Indri Widyaningrum, orang tua siswa kelas X yang menjadi saksi ledakan, mengatakan anaknya masih trauma meski tidak mengalami luka fisik. Anaknya, Rafi (bukan nama sebenarnya), kini dirawat di RS Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
“Anak saya tidak ada cedera. Tapi telinganya sakit dan khawatir bermasalah. Kayak pengang, gitu,” kata Indri di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit tersebut.
7. Polisi Temukan Senjata Mainan di Lokasi
Dalam penyelidikan di tempat kejadian, aparat menemukan sebuah senapan yang sempat membuat warga sekitar panik. Setelah diperiksa, senjata tersebut ternyata bukan senjata api sungguhan.
“Setelah kami cek memang betul ada senapan. Tetapi, itu senapan mainan,” kata Lodewijk di lokasi, Jumat, 7 November 2025.
“Benar, itu senapan mainan,” kata Lodewijk Freidrich Paulus.
Kapolri Listyo menambahkan, senjata mainan itu memiliki tulisan tertentu yang kini sedang diselidiki.
“Kami akan mendalami apakah tulisan tersebut berkaitan dengan motif pelaku. Semua temuan akan dijelaskan setelah penyelidikan dan penyidikan selesai,” ujarnya.
8. Senjata Mainan Bertuliskan, “Brenton Tarrant. Welcome to Hell.”
Berdasarkan foto yang didapatkan kantor berita Antara, terdapat dua benda mirip senjata api yang terdiri satu senjata laras panjang dan satu pistol.
Pada bagian laras benda mirip senjata api tertulis, “14 Words. For Agartha.”
Sementara itu pada bagian badan obyek terdapat tulisan, “Brenton Tarrant. Welcome to Hell.”
Dikutip dari BBC, Brenton Tarrant adalah pelaku penembakan massal di Christchurch, Selandia Baru, pada 15 Maret 2019.
Ia melakukan dua penembakan massal berturut-turut saat salat Jumat di Masjid Al Noor dan kemudian di Linwood Islamic Centre. Dalam peristiwa dua penembakan di Christchurch tersebut, total korban tewas mencapai 51 orang dan 89 lainnya luka-luka.

9. Polisi Dalami Motif dan Rakitannya
Polri kini fokus menelusuri motif serta cara pelaku merakit bahan peledak yang digunakan. Listyo menyebut seluruh hasil analisis barang bukti, keterangan saksi, dan temuan di lapangan akan disampaikan setelah penyidikan tuntas.
“Kami mendalami motif bagaimana yang bersangkutan kemudian merakit dan kemudian melaksanakan aksinya, semuanya akan kami jelaskan setelah semua informasi-informasi, temuan-temuan di lapangan, hasil penyelidikan, dan penyidikan lebih lanjut lengkap,” katanya..












