Banyuasin, JITOE.com – Rencana pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, yang sempat tertunda selama empat dekade menemukan titik terang. Proyek strategis nasional itu dijadwalkan mulai dibangun pada awal 2026 dan diproyeksikan menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK) hilirisasi pertama di wilayah Sumatera bagian selatan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan rasa terkejutnya ketika mengetahui bahwa rencana pelabuhan samudera ini sudah bergulir sejak sekitar 40 tahun lalu dan melibatkan delapan periode kepemimpinan gubernur di Sumsel. Menurutnya, proyek ini menjadi tonggak penting untuk memperkuat arus logistik dan memacu pertumbuhan ekonomi daerah.
“Terus terang agak kaget ketika mengetahui bahwa rencana pembangunan samudera ini sudah direncanakan hampir kurang lebih 40 tahun,” kata Dudy dalam kegiatan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan serah terima lahan di Palembang, Jumat (31/10/2025).
Pelabuhan Tanjung Carat nantinya akan dibangun di lahan seluas 5.590 hektare dan dikembangkan secara bertahap selama tiga hingga empat tahun. Pemerintah menargetkan fasilitas utama sudah bisa beroperasi sebelum 2029. Kawasan tersebut juga akan menjadi pelabuhan multimoda yang terintegrasi dengan jalan tol Palembang–Betung dan jalur kereta api barang.
Dudy menekankan, proyek ini tidak boleh berhenti sebatas seremoni. Ia meminta agar seluruh pihak yang terlibat bekerja dengan jadwal yang terukur agar manfaat pelabuhan bisa segera dirasakan masyarakat Sumsel.
“Kita sudah punya timeline yang jelas. Awal 2026 dilakukan groundbreaking, dan dalam tiga sampai empat tahun diharapkan sudah rampung. Ini harus berlanjut, tidak boleh berhenti di seremoni,” ungkapnya.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menilai, keberadaan pelabuhan samudera ini sangat vital bagi efisiensi logistik daerah. Ia menuturkan, sejak wilayah Sumbagsel terpisah menjadi beberapa provinsi, Sumsel tak lagi memiliki pelabuhan besar yang memadai. Pelabuhan Boom Baru di Palembang disebut sudah uzur dan tidak mampu menampung kapal besar karena sedimentasi.
“Sumsel punya sumber daya alam yang melimpah — dari sawit, karet, hingga batu bara. Tapi biaya transportasi jadi sangat tinggi karena kita tidak punya pelabuhan yang bisa diandalkan,” ujarnya.
“Kami berharap dukungan penuh dari Kemenhub agar lahan ini segera dimanfaatkan. Pembangunan Tanjung Carat akan memacu pertumbuhan ekonomi Sumsel, sekaligus mengurai kepadatan pelabuhan dalam kota,” tambahnya.
Deru menjelaskan, delapan gubernur sebelumnya telah berupaya mewujudkan pembangunan pelabuhan samudera ini, namun selalu terkendala berbagai hal. Karena itu, penyerahan lahan seluas 59,5 hektare kepada Kementerian Perhubungan menjadi langkah penting menuju realisasi proyek tersebut.
Ia berharap, pelabuhan Tanjung Carat nantinya tak hanya memperlancar distribusi komoditas lokal, tapi juga menarik investasi besar ke Sumsel.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu menambahkan, Tanjung Carat akan menjadi salah satu simpul utama hilirisasi industri nasional. Selain menjadi KEK, kawasan ini akan menampung berbagai BUMN dan perusahaan yang bergerak di sektor sumber daya alam.
Menurutnya, Sumatera bagian selatan sangat membutuhkan pelabuhan besar untuk memperkuat jaringan logistik.
“Pelabuhan di Sumatera cuma ada di Dumai dan di Lampung. Pembangunan pelabuhan ini jadi PR besar, jadi kunci urusan logistik. Sumsel terus terang sangat tidak efisien, karena integrated logistic-nya tidak memadai,” terang Todotua.
Ia juga menyebutkan bahwa pembangunan pelabuhan akan dibarengi dengan proyek infrastruktur pendukung, seperti tol dari jaringan JTTS yang akan diperpanjang hingga ke Tanjung Carat. Jalur tol tersebut juga akan tersambung ke Muara Enim untuk memperlancar distribusi batu bara.
“PTBA kurang lebih hanya bisa keluar 42-45 juta ton batu bara, bukan masalah produksi tapi saluran keluaran yang jadi tantangan. Jadi pelabuhan ini nantinya akan benar-benar menyelesaikan banyak hal,” ucapnya.(*).












